Tweet Ke 1000

   Namaku Dio, umurku 12 tahun. Seharusnya aku sudah kelas 7 SMP tapi dokter menyuruhku untuk berhenti sekolah karena penyakitku ini. Ya aku menderita leukimia sejak aku berumur 7 tahun. Aku benci penyakit ini. Penyakit ini membuatku cepat lelah. Aku jadi tak bisa bermain lagi dengan temanku. Aku tak bisa lagi bersepeda mengelilingi komplek. Dan aku juga jadi jarang bertemu dengan Cindy.

  Aku sangat suka sekali dengan Twitter. Entah mengapa, padahal aku baru mengenal Twitter sekitar 3 bulan yang lalu. Berawal dari temanku yang mengajariku cara menggunakannya. Aku tak pernah ketinggalan untuk membaca setiap tweeps dari orang yang ku follow. Terkadang aku tersenyum sendiri dengan candaan di Twitter, tapi tak jarang aku merasa sedih dan agak jengkel dengan manusia manusia yang mengeluh dan mengungkapkannya lewat jejaring sosial yang amat keren ini. Tak berguna.

  Seperti hari hari biasa aku menjalani pemeriksaan yang sangat membosankan. Aku duduk di kursi tengah mobil yang sedang melaju. Tak kusia siakan waktu itu. Aku gunakan untuk membuka Twitter untuk sekedar membalas mention dari temanku atau hanya melihat lihat tweet. Tak kusangka ternyata aku sudah membuat tweet sampai dengan 995 tweet selama ini. Wah sebentar lagi aku akan mendapat tweet ke 1000 ku.

  Pemeriksaan kali ini berbeda dengan pemeriksaan hari hari sebelumnya. Entah mengapa?. Mungkin karena tadi siang aku mimisan lalu pingsan. Pemeriksaan kali ini sungguh merepotkan. Aku harus di infus, aku harus di suntik dengan berbagai cairan yang tak enak, aku harus di belit dengan berbagai macam selang. Ahh aku bosan dengan semua ini.

  Sudah satu minggu aku menjalani pemeriksaan seperti itu. Ada satu hal yang membuatku sangat kecewa. Kemarin kulihat ibuku menangis di pelukan ayahyku dan memanggil manggil namaku ketika aku sedang tidur. Tak sengaja aku mendengarkan bisikan dari ibuku. Ibu berkata jika nyawaku tak bisa ditolong lagi. Hanya biaya yang luar biasa fantastis yang bisa menolong nyawaku. Sementara kedua orang tuaku mungkin tak akan sanggup untuk membiayai itu. Aku sedih tak terkira. Lebih baik aku mati saja. Aku cinta Ayah dan Ibuku, melebihi cintaku pada Cindy dan hidupku sendiri.

  Aku sadar nyawaku tak akan bertahan lama lagi. Aku tak mau menyia nyiakan waktuku ini. Aku berdoa, aku terus berdoa. Mendoakan orang tuaku dan diriku sendiri. Tapi entah mengapa, tiba tiba aku jadi sangat rindu pada Twitterku. Lalu aku teringat akan tweetku yang hampir mencapai 1000. Ya angka yang spesial. Aku tak mau menyia nyiakannya.

Tweet ke 996|Kamis 10 November 2011|08.00-- Aku tak mau merepotkan seorangpun lagi di dunia ini.

  Ya. Aku memang sudah tak mau merepotkan seseorangpun lagi didunia. Biarkan penyakitku ini aku yang merasakannya. Aku tak mau orang tuaku ikut sakit karena penyakitku ini. Aku tak ingin membuat seorangpu ikut merasakan derita yang kurasakan. Atau mungkin lebih!.

Tweet ke 997|Sabtu 12 November 2011|13.00-- Terima kasih untuk semuanya. Aku tak akan mampu melupakanmu. Aku akan selalu mengingatmu. Karna aku sayang kalian #KawanAkuSayangKalian

  Untuk kawan kawanku yang selalu mendukungku, kalian adalah manusia manusia yang paling hebat! Aku tak akan bisa menemukan manusia aneh seperti kalian di manapun berada. Ya kalian beda. Kalian gila. Tapi kalian hebat!. Kalianlah yang membuat hidupku sangat berbeda. Aku hanya bisa merasakan hidup bersama kalian. Aku sangat beruntung punya teman sehebat dan sekeren kalian!. Kalian juga yang membuatku lebih beruntung di dunia ini. Dan aku berjanji akan selalu mendoakan kalian.

Tweet ke 998|Sabtu 12 November 2011|13.15-- Untuk seorang wanita yang kusebut dengan Cindy. Aku suka kamu. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Maaf aku pernah berbuat salah padamu. Maaf aku tak pernah mengungkapkan perasaanku. Yang jelas aku cinta kamu.

  Akhirnya aku mengungkapkan perasaanku pada Cindy. Gadis yang cantik yang selalu kurindukan. Aku telah memendam dalam dalam perasaanku pada Cindy. Aku takut jika Cindy menolak cintaku. Tapi.. Mungkin saja ini hari terakhirku. Jadi aku tak ingin menyembunyikan sesuatu di dunia ini lagi. Aku ingin terbuka. Aku tak mau punya lagi hutang pada seorang pun di dunia ini. Dan aku punya hutang perasaan pada Cindy. Ya aku cinta Cindy.

  Hari ini aku menjalani pemeriksaan untuk kesekian kalinya. Aku sudah menolaknya. Aku sudah bersusah payah untuk meyakinkan kedua orang tuaku untuk tidak membawaku kembali dan aku tidak apa apa. Aku sangat lah sedih jika harus begini. Aku tak ingin membuat orang tuaku repot karnaku. Aku tak ingin melihat orang tuaku yang selalu menangis saat malam hari. Dan kembali aku dihadapkan pada dinginnya ruangan operasi yang gelap ini. Dan aku akan berjumpa lagi dengan jarum suntik dan selang selang yang tidak menyenangkan itu. Sangat tidak menyenangkan.

  Aku tak sadarkan diri...

   Aku terbangun dengan alunan ayat ayat suci alquran yang dibacakan oleh ibuku. Perlahan aku membuka mata. "Kamu sadar nak?" suara ibuku perlahan terdengar. "Umm.." aku hanya mengangguk pelan. Ibuku tersenyum. Melihat senyuman ibu aku jadi lebih bahagia. Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Mungkin 2 atau 3 hari mungkin saja sudah 1 minggu. Yang jelas ibu selalu ada di sisiku.

  Perlahan kondisiku semakin membaik.

"Ibuu..." kataku pelan.

"Apa Dio?" jawab ibu dengan senyuman.

"Maafin Dio ya buu" rintihku.

"Maksudmu gimana yo?"

"Aku telah merepotkan Ibu.."

"Siapa bilang?" kata Ibuku.

"Aku tau bu.. Aku tau Ibu selalu sedih karena penyakitku ini.. Maafin Dio ya buu" perlahan aku menangis.

Ibu hanya tersenyum. "Kamu tau hal yang membuat Ibu menangis?"

"Apa ituu? Pasti aku..." aku tersedu.

"Iya kamulah yang membuat Ibu menangis. Menangis bangga." kata Ibu.

"Maksud ibu?" aku mulai bingung.

"Iya Ibu bangga punya anak kuat seperti kamu Dio" "Kamu memang hebat" sambung Ibu.

Aku tersenyum walaupun tak paham maksud Ibu. Aku bisa merasakan kehangatan kasih sayang Ibu. Dia kurasakan. Seperti sebuah obat yang sedang melawan penyakitku ini. Aku tersenyum sendiri.

"Bu.."

"Apa?"

"Aku boleh minta tolong?"

"Apa itu?"

Aku menunjuk meja diujung ruangan. "Tolong ampilkan Handphone ku di meja itu buu" 

Ibu tersenyum dan pergi mengambil Handphoneku.

"Ini nak..." kata ibu sambil menyerahkan Handphone padaku.

"Terimakasih bu.." jawabku pendek.

Ibu hanya mengangguk.

   Seperti biasa aku membuka Twitter.

  Tweet ke 999|Rabu 30 November 2011|10.00-- Terimakasih Ibu, Terimakasih Ayah, Terimakasih teman teman, Terimakasih Cindy. Terimakasih dunia.

  Terimakasih untukmu juga.  Aku ber terimakasih kepada semua orang karena merekalah yang membuatku hidup. Orang Tuaku, teman temanku, Cindy dan semua orang disekitarku yang selalu ada untukku. Terimakasih!.

  Kemudian aku merasa nafasku sesak yang tak karuan. Aku coba tahan semua itu. Tak mau membuat Ibu khawatir. Lalu segera kuambil Handphoneku. Kubuat Tweet ke 1000 ku.

  Tweet ke 1000|Rabu 30 November 2011|12.00-- Aku ingin keluar dari sini. Maafkan aku dunia. Terima Kasih dunia. Aku cinta kamu. Selamat tinggal... :)

  Lalu...

  1 Desember 2011--

"Sudahlah Dania, Dio akan tenang disana. Dia lelaki tangguh."

"Tapi dia terlalu muda untuk meninggal..."

"Suatu kematian tidak memandang umur dan jabatan seseorang Dan..."

Dania memegang erat Handphone anaknya. Dia menangis hebat. Badannya terguncang hingga jatuh dan tak sadarkan diri.

  Itu karena...

Dio menghembuskan nafas terakhirnya saat... Dia mencium kening Ibunyaa... Dan dia tersenyum...

Look how my mouth seems to move, saying that these days will come back again.
I was studying everything you do, finding out that I was wrong now I'm thinking all alone.
My hearts on fire.
 
She said "you're wrong, it wasn't me that you desire,
It was a ghost that you once knew,
I have come back again, and my heart is not with you."

Look how my eyes seem to close, when the day is growing old there is so much you can tell.

I feel that my heart begins to swell and everyday that goes by, I can only wonder why.
 
My last desire, is just to breathe, one last time while you are next to me.
It's the last thing that was true.
She said "I'm happy now, there's no life for me and you". 


Cinta di dunia memang sangatlah rumit. Tapi hanya dengan cintalah kita bisa memecahkan kerumitan itu. Akrablah dan bertemanlah dengan sosok ajaib yang disebut Cinta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer