Regretting my last time with you
Sebuah kain bermotif batik menutupi sekujur tubuhmu kawan. Aliran air mata kesedihan jelas terpancar dari keluarga, kerabat dan teman temanmu. Alunan bacaan surat Ya-siin mulai berkumandang. Tak kuasa aku mulai bergetar mengingat apa yang telah terjadi padamu. Kupegang erat erat jam tangan Casio model lama yang kau berikan kepadaku sebelum kau pergi meninggalkan aku selamanya. Sebuah tepukan mendarat di pundakku. "Sudahlah, ikhlaskan saja kepergian Rendy, dia pasti bahagia disana" kata Nabila padaku. "Iya laa, terima kasih" kataku sambil beranjak pergi meninggalkan rumah duka.
"laa ilaa hailallah... laa ilaa hailallah... laa ilaa hailallha..." alunan takbir mengiringi langkahmu menuju rumah abadimu. Kini aku ada disampingmu. Aku membantumu menuju kebahagiaanmu. Bersama 3 orang lain aku mengantarmu pulang. Seorang lelaki tua bersorban mulai mengumandangkan adzan untukmu. Ayah, ibu, adikmu, teman temanmu menumpahkan air matanya. Aku yang mulanya sedikit tegar, akhirnya tumpah juga air mataku. Kubacakan do'a do'a yang mungkin akan membuatmu sedikit tenang.
Perlahan lahan satu demi satu orang meninggalkanmu sendiri disini. Aku masih setia menemanimu kawan. Aku tak ingin kau sendiri. Aku tak ingin kau ketakutan. Aku tak ingin kau bersedih. Dan aku tak ingin kau mati. Secepat ini. "Makasih Ren..." kataku seraya memegang batu nisan bertuliskan namamu. Aku pun berlalu.
Di dalam mobil yang sedang melaju aku tak kuasa menahan air mataku kembali. Sebuah kenangan kembali muncul dalam ingatanku. Ya.. kenangan... Kulihat kita berdua berlarian didepan rumah pak RT saat kecil dulu. Kulihat kita dihukum oleh pak Ali karena kenakalan kita. Kulihat kita sedang berlomba lomba untuk mendapatkan Gisela cewek tercantik di kelas. Kulihat kita berdua tengah menyantap soto pak Rahmad di depan sekolah. Kulihat kita sedang bertengkar karena alasan yang tak begitu jelas. Kulihat dirimu yang sedang mengingatkanku untuk sholat. Kulihat dirimu yang sedang pacaran dengan Gisela di lapangan basket yang membuatku cemburu. Kulihat diriku sendiri yang sedang terpuruk dan dirimu menghiburku. Kenanganku dan kamu memang tak bisa kusebutkan semuanya. Dan aku masih ingat kata kata terakhirmu sebelum kau meninggalkan kita.
Aku yang merasa sangat bersalah akan kematianmu. Aku merasa akulah yang telah membunuhmu.
1 Hari yang lalu-- "Anjing lo Ren! kayaknya lo harus lupain persahabatan kita!" kataku sambil mendorongnya hingga jatuh di lantai. Rendy masih menundukan kepalanya. "Jawab Ren!" kataku keras. "Gue gak bermaksud gitu Dik" jawabnya ketakutan. "Gak bermaksud ngambil Nabila dari gua gitu! Eh lo inget ya! Nabila itu cewek gue! Lo sendiri kan udah punya Gisela! Gue sangkain lo temen yang baik Ren" kataku sambil menunjuk mukanya. "Dengerin penjelasan gue dulu dik.." "Penjelasan? apalagi yang harus dijelaskan!? Udah jelas jelas lo sama Nabila duduk berduaan di taman dan lo pergi gitu aja pas liat gue ada di depan lo!" "Lo memang anjing Ren! gue kecewa temenan ama lo!" sambungku sambil berlalu meninggalkan Rendy. "Diki! tunggu dulu dik!" kata Rendy dari belakang. Dia berlari mengejarku. Sebuah truk besar datang dari sisi sebelah kiri Rendy dengan sangat cepat. "REEENDYYY....!!!" teriakku. Ya. Rendy telah tertabrak truk itu. Dengan segera mobil ambulans datang untuk membawa Rendy ke rumah sakit terdekat.
"Cepet sus!" kataku sambil membantu mendorong Rendy yang berlumuran darah. Aku terus saja menggenggam tangan Rendy dengan erat. Luka Rendy sangatlah parah. Aku hanya bisa menunggu didepan ruang operasi sambil berdoa keajaiban akan datang. Kulihat Rendy yang tak berdaya di balik jendela ruang operasi. Dokter nampak kesulitan menutup luka yang sangat parah dari sekujur tubuh Rendy. Sejenak kupejamkan mata ini. Aku mulai bingung dengan perasaan yang berkecamuk di pikiranku. Antara benci dan sedih melihat sahabatku sedang tak berdaya.
8 jam telah berlalu. Tak sadar aku telah tertidur di kursi depan ruang operasi Rendy. Aku terbangun oleh suara pintu ruang operasi yang terbuka. Keluarlah dokter itu. "Gimana keadaannya dok?" tanyaku gugup. "Sangat parah, tapi syukurlah keadaannya sudah membaik dan dia sudah siuman" kata dokter yang melegakan. "Syukurlah.. Saya boleh melihatnya dok?" "Boleh boleh silahkan" kata dokter sambil meninggalkanku. "Oh ya, masalah biaya nanti bisa diurus di bagian administrasi ya" kata dokter di ujung lorong "I.. Iya dok" kataku.
Kulihat Rendy tengah terbaring lemah. "Ren.. lo gak apa apa kan?" kataku. "Maafin gue dik.. gue gak bermaksud begitu.." jawab Rendy dengan nafas yang ter engal engal. "Gue yang salah Ren! Gue yang bikin lo kayak gini!" jawabku sambil menangis. Rendy tersenyum dan mulai menangis. "Kita masih bersahabat kan dik?" tanyanya sambil menangis "Pasti ren! pasti!" jawabku. "Makasih dik, lo lupa ya? ini hari hari ultah lo yang ke 20. Selamat ya dik" katanya tersenyum. "Lo bodoh ren! gak usah memikirkan itu! itu gak penting tauk! yang terpenting sekarang kesembuhan lo" jawabku tertawa. "Lo buka kotak di meja itu. Itu hadiah ulang tahunmu dik! terima kasih lo mau jadi temen gue..." katanya tersenyum. Aku langsung meraih sebuah kotak yangsudah agak berlumuran darah itu. Ku buka isinya. Sebuah jam tangan Casio model lama yang aku impikan sejak dulu. "Waah makasih ya ren!" kataku semangat. Tak ada jawaban dari Rendy. "Ren?" kataku sambil melihat kearah Rendy. Kulihat Rendy sudah memejamkan matanya dan tersenyum gembira. "Rendy! Rendy! bangun ren! Dokterrr....." teriakku. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memberi pertolongan. Tapi. Rendy tidak bisa tertolong.
Dengan langkah gontai aku keuar ruangan dengan menggenggam sebuah kotak berisi jam tangan tersebut. Nabila kemudian datang menghampiriku. "Gimana dik?" tanya Nabila. Ku berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Nabila dan menangis. "Rendy meninggal la..." jawabku menangis dengan keras. "Apa!" kata Nabila sambil menangis juga. "Dik, kejadian kemaren sebenarnya nggak kayak yang kamu pikirin, kemarin Rendy mengajakku ke taman, dia mau tanya kado apa yang cocok buat hari ulang tahunmu ini!" "Dan aku jawab kalau kamu begitu menginginkan sebuah jam tangan yang sedang kau pegang itu kan?" sambungnya. "Tapi kenapa lo marah marah dik?" sambungnya kembali. "A... Aku... Tak tahu harus berbuat apa la... " Tangisanku kembali pecah. Suara tangisku mulai menggema di seluruh ruangan rumah sakit.
Semua kejadian itu mungkin sudah sangat terlambat untuk ku sesali. Kalau saja Rendy disini aku pasti akan meminta maaf. Aku rela bersujud dihadapannya. Aku rela memutuskan Nabila yang sangat ku cintai. Aku rela memberikan semua harta bendaku. Aku akan merelakan apapun untuk bisa meminta maaf padamu. Lalu sebuah bayangan wajahmu merasuki kepalaku. Disebuah ruang gelap aku bertemu denganmu. Kulihat wajahmu begitu bersinar terang. Kau menghampiriku yang tengah terjatuh. Kau ulurkan tanganmu kepadaku. Aku raih tanganmu dan akupun berdiri dihadapanmu. Aku memelukmu. Aku meminta maaf padamu. Tak kusangka kau menamparku. "Laki laki nggak boleh cengeng tolol! Gue udah maafin lo kok. Lagian lo gak salah." kau tersenyum dan tertawa. "Makasih ren.. Makasih banget... " kataku sambil menghapus air mataku. "Iya dik, gue seneng, gue bahagia punya temen kayak lo. Makasih juga lo udah mau jadi temen gue. Lo temen terbaik gue dik" katanya sambil tersenyum dan perlahan lahan dia menghilang dari ruangan gelap ini. "Sama sama Ren! " kataku keluar dari ruangan tersebut dan kulihat diriku sendiri tengah mengendarai mobilku sendiri dan sedang menyalakan lagu dari Secondhand Serenade~Last Time dengan jam tangan Casio pemberian Rendy yang melekat di tangan kiriku.
I'm stuck with writing songs
Just to forget
What they really were about
And these words are bringing me so deeply insane
That I don't think I can dig my way out
I couldn't breathe you in
Like I need to and the words don't mean a thing
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of days spent without you
And there is nothing left to prove
I'm counting all the things I could have done
To make you see
That I wanted us to be what I go to sleep and dream of
I want you to know that I'd die for you
I'd die for you
I couldn't breathe you in
Like I need to and the words don't mean a thing
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of the days spent without you
And there's nothing left to prove
And if you are alone
Make sure you're not lonely
Cause if you are, I blame myself
For never being home
I know I'm not the only one
Who will treat you like they should
What you deserve
I'm stuck with writing songs
Just to forget
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of the days spent without you
And there's nothing left to prove
Jika cinta telah menghancurkan persahabatan, lebih baik tinggalkanlah cintamu itu dan kembalilah pada sahabatmu!
"laa ilaa hailallah... laa ilaa hailallah... laa ilaa hailallha..." alunan takbir mengiringi langkahmu menuju rumah abadimu. Kini aku ada disampingmu. Aku membantumu menuju kebahagiaanmu. Bersama 3 orang lain aku mengantarmu pulang. Seorang lelaki tua bersorban mulai mengumandangkan adzan untukmu. Ayah, ibu, adikmu, teman temanmu menumpahkan air matanya. Aku yang mulanya sedikit tegar, akhirnya tumpah juga air mataku. Kubacakan do'a do'a yang mungkin akan membuatmu sedikit tenang.
Perlahan lahan satu demi satu orang meninggalkanmu sendiri disini. Aku masih setia menemanimu kawan. Aku tak ingin kau sendiri. Aku tak ingin kau ketakutan. Aku tak ingin kau bersedih. Dan aku tak ingin kau mati. Secepat ini. "Makasih Ren..." kataku seraya memegang batu nisan bertuliskan namamu. Aku pun berlalu.
Di dalam mobil yang sedang melaju aku tak kuasa menahan air mataku kembali. Sebuah kenangan kembali muncul dalam ingatanku. Ya.. kenangan... Kulihat kita berdua berlarian didepan rumah pak RT saat kecil dulu. Kulihat kita dihukum oleh pak Ali karena kenakalan kita. Kulihat kita sedang berlomba lomba untuk mendapatkan Gisela cewek tercantik di kelas. Kulihat kita berdua tengah menyantap soto pak Rahmad di depan sekolah. Kulihat kita sedang bertengkar karena alasan yang tak begitu jelas. Kulihat dirimu yang sedang mengingatkanku untuk sholat. Kulihat dirimu yang sedang pacaran dengan Gisela di lapangan basket yang membuatku cemburu. Kulihat diriku sendiri yang sedang terpuruk dan dirimu menghiburku. Kenanganku dan kamu memang tak bisa kusebutkan semuanya. Dan aku masih ingat kata kata terakhirmu sebelum kau meninggalkan kita.
Aku yang merasa sangat bersalah akan kematianmu. Aku merasa akulah yang telah membunuhmu.
1 Hari yang lalu-- "Anjing lo Ren! kayaknya lo harus lupain persahabatan kita!" kataku sambil mendorongnya hingga jatuh di lantai. Rendy masih menundukan kepalanya. "Jawab Ren!" kataku keras. "Gue gak bermaksud gitu Dik" jawabnya ketakutan. "Gak bermaksud ngambil Nabila dari gua gitu! Eh lo inget ya! Nabila itu cewek gue! Lo sendiri kan udah punya Gisela! Gue sangkain lo temen yang baik Ren" kataku sambil menunjuk mukanya. "Dengerin penjelasan gue dulu dik.." "Penjelasan? apalagi yang harus dijelaskan!? Udah jelas jelas lo sama Nabila duduk berduaan di taman dan lo pergi gitu aja pas liat gue ada di depan lo!" "Lo memang anjing Ren! gue kecewa temenan ama lo!" sambungku sambil berlalu meninggalkan Rendy. "Diki! tunggu dulu dik!" kata Rendy dari belakang. Dia berlari mengejarku. Sebuah truk besar datang dari sisi sebelah kiri Rendy dengan sangat cepat. "REEENDYYY....!!!" teriakku. Ya. Rendy telah tertabrak truk itu. Dengan segera mobil ambulans datang untuk membawa Rendy ke rumah sakit terdekat.
"Cepet sus!" kataku sambil membantu mendorong Rendy yang berlumuran darah. Aku terus saja menggenggam tangan Rendy dengan erat. Luka Rendy sangatlah parah. Aku hanya bisa menunggu didepan ruang operasi sambil berdoa keajaiban akan datang. Kulihat Rendy yang tak berdaya di balik jendela ruang operasi. Dokter nampak kesulitan menutup luka yang sangat parah dari sekujur tubuh Rendy. Sejenak kupejamkan mata ini. Aku mulai bingung dengan perasaan yang berkecamuk di pikiranku. Antara benci dan sedih melihat sahabatku sedang tak berdaya.
8 jam telah berlalu. Tak sadar aku telah tertidur di kursi depan ruang operasi Rendy. Aku terbangun oleh suara pintu ruang operasi yang terbuka. Keluarlah dokter itu. "Gimana keadaannya dok?" tanyaku gugup. "Sangat parah, tapi syukurlah keadaannya sudah membaik dan dia sudah siuman" kata dokter yang melegakan. "Syukurlah.. Saya boleh melihatnya dok?" "Boleh boleh silahkan" kata dokter sambil meninggalkanku. "Oh ya, masalah biaya nanti bisa diurus di bagian administrasi ya" kata dokter di ujung lorong "I.. Iya dok" kataku.
Kulihat Rendy tengah terbaring lemah. "Ren.. lo gak apa apa kan?" kataku. "Maafin gue dik.. gue gak bermaksud begitu.." jawab Rendy dengan nafas yang ter engal engal. "Gue yang salah Ren! Gue yang bikin lo kayak gini!" jawabku sambil menangis. Rendy tersenyum dan mulai menangis. "Kita masih bersahabat kan dik?" tanyanya sambil menangis "Pasti ren! pasti!" jawabku. "Makasih dik, lo lupa ya? ini hari hari ultah lo yang ke 20. Selamat ya dik" katanya tersenyum. "Lo bodoh ren! gak usah memikirkan itu! itu gak penting tauk! yang terpenting sekarang kesembuhan lo" jawabku tertawa. "Lo buka kotak di meja itu. Itu hadiah ulang tahunmu dik! terima kasih lo mau jadi temen gue..." katanya tersenyum. Aku langsung meraih sebuah kotak yangsudah agak berlumuran darah itu. Ku buka isinya. Sebuah jam tangan Casio model lama yang aku impikan sejak dulu. "Waah makasih ya ren!" kataku semangat. Tak ada jawaban dari Rendy. "Ren?" kataku sambil melihat kearah Rendy. Kulihat Rendy sudah memejamkan matanya dan tersenyum gembira. "Rendy! Rendy! bangun ren! Dokterrr....." teriakku. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memberi pertolongan. Tapi. Rendy tidak bisa tertolong.
Dengan langkah gontai aku keuar ruangan dengan menggenggam sebuah kotak berisi jam tangan tersebut. Nabila kemudian datang menghampiriku. "Gimana dik?" tanya Nabila. Ku berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Nabila dan menangis. "Rendy meninggal la..." jawabku menangis dengan keras. "Apa!" kata Nabila sambil menangis juga. "Dik, kejadian kemaren sebenarnya nggak kayak yang kamu pikirin, kemarin Rendy mengajakku ke taman, dia mau tanya kado apa yang cocok buat hari ulang tahunmu ini!" "Dan aku jawab kalau kamu begitu menginginkan sebuah jam tangan yang sedang kau pegang itu kan?" sambungnya. "Tapi kenapa lo marah marah dik?" sambungnya kembali. "A... Aku... Tak tahu harus berbuat apa la... " Tangisanku kembali pecah. Suara tangisku mulai menggema di seluruh ruangan rumah sakit.
Semua kejadian itu mungkin sudah sangat terlambat untuk ku sesali. Kalau saja Rendy disini aku pasti akan meminta maaf. Aku rela bersujud dihadapannya. Aku rela memutuskan Nabila yang sangat ku cintai. Aku rela memberikan semua harta bendaku. Aku akan merelakan apapun untuk bisa meminta maaf padamu. Lalu sebuah bayangan wajahmu merasuki kepalaku. Disebuah ruang gelap aku bertemu denganmu. Kulihat wajahmu begitu bersinar terang. Kau menghampiriku yang tengah terjatuh. Kau ulurkan tanganmu kepadaku. Aku raih tanganmu dan akupun berdiri dihadapanmu. Aku memelukmu. Aku meminta maaf padamu. Tak kusangka kau menamparku. "Laki laki nggak boleh cengeng tolol! Gue udah maafin lo kok. Lagian lo gak salah." kau tersenyum dan tertawa. "Makasih ren.. Makasih banget... " kataku sambil menghapus air mataku. "Iya dik, gue seneng, gue bahagia punya temen kayak lo. Makasih juga lo udah mau jadi temen gue. Lo temen terbaik gue dik" katanya sambil tersenyum dan perlahan lahan dia menghilang dari ruangan gelap ini. "Sama sama Ren! " kataku keluar dari ruangan tersebut dan kulihat diriku sendiri tengah mengendarai mobilku sendiri dan sedang menyalakan lagu dari Secondhand Serenade~Last Time dengan jam tangan Casio pemberian Rendy yang melekat di tangan kiriku.
I'm stuck with writing songs
Just to forget
What they really were about
And these words are bringing me so deeply insane
That I don't think I can dig my way out
I couldn't breathe you in
Like I need to and the words don't mean a thing
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of days spent without you
And there is nothing left to prove
I'm counting all the things I could have done
To make you see
That I wanted us to be what I go to sleep and dream of
I want you to know that I'd die for you
I'd die for you
I couldn't breathe you in
Like I need to and the words don't mean a thing
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of the days spent without you
And there's nothing left to prove
And if you are alone
Make sure you're not lonely
Cause if you are, I blame myself
For never being home
I know I'm not the only one
Who will treat you like they should
What you deserve
I'm stuck with writing songs
Just to forget
So I'll sing this song to you
For the last time
And my heart is torn in two
Thinking of the days spent without you
And there's nothing left to prove
Jika cinta telah menghancurkan persahabatan, lebih baik tinggalkanlah cintamu itu dan kembalilah pada sahabatmu!


Komentar
Posting Komentar