Takdir dan impian

   Aku tersenyum bangga melihat sebuah poster bertajuk MEGA KONSER AVENGED SOEPHFOLD dengan dihiasi foto diriku dan teman teman seperjuanganku menempel pada jalan jalan di kota metropolitan ini. Dan dalam sebuah baliho besar di pusat kota pun wajahku dan para temanku sudah terpampang jelas dengan logo tengkorak bersayap pada background baliho tersebut.  "Udah ijo tuh, jalan lagi jang" kataku pada sopirku Ujang. "Sep boss, Langsung ke studio nih bos?" jawabnya sambil bertanya. "Iye cepet, temen temen udah pada nunggu disono" jawabku. "Siap boss" kata ujang sambil menambah kecepatan mobil toyota alphard ku ini.
Sebentar lagi konser tunggal band rock yang tengah menapak kesuksesan ini akan segera digelar. Berbagai persiapan dan latihan sudah ku jalani dengan teman temanku. Kulihat Chandra yang sedang asyik memainkan melodi dengan gitarnya, Dewa yang tengah menghafal lagu yang akan dinyanyikannya besok, Rio memetik senar gitar dengan indahnya, Narul kulihat sedang sibuk dengan bass favoritnya, dan ku lihat Farizal yang sangat hebat dalam menggebuk drum doubel pidal itu. "Ngapain lo berdiri disitu terus.. Ayo latihan" bentak Chandra yang melihatku. "Iya iya sebentar belum juga nafas guee" jawabku ketus. Sejenak kemudian kita pun mulai memainkan alat musik kita sendiri sendiri dan Dewa dan aku pun mulai mendendangkan lagu lagu yang sudah disiapkan sebelumnya.Dan suasana studio musik milik kita pribadi itu kini mulai berisik dengan musik rock yang kami mainkan.

    Lalu aku tertawa sombong setelah acara latihan itu usai. Aku memang sedang mentertawakan nasib dan impianku di masa lalu, takdir yang tak pernah ku inginkan sebelumnya dan impian yang dulu hanya sebuah bualan biasa. Tapi sekarang? aku begitu menikmati takdirku dan aku sedang menikmati impianku itu.

    8 tahun lalu aku dan bandku belum menjadi apa apa. Kita hanyalah band yang terkumpul dari siswa yang amatir di salah satu sekolah menengah pertama di kotaku. Kita pertama bertemu dalam satu kelas yaitu 9F atau yang akrab dipanggil SOEPH yang menjadi nama band kita waktu itu. Pertama kali kita menjadi sebuah band memang bukan suatu kesengajaan. Tidak ada niat sedikitpun dari kita untuk membuat band. Membuat band adalah sebuah ide gila yang dicetuskan oleh teman ku sekaligus vokalis yang menemaniku di band ini yaitu Dewa. Awalnya kita ragu dengan ide gila ini, tapi Dewa menjelaskan jika membentuk band ini untuk acara perpisahan di sekolah yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Mendengar alasan itu kita pikir itu hal yang keren, karna bisa dilihat oleh para cewek idola di sekolah ini saat acara itu berlangsung. Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari sang drummer Farizal, ternyata band kita sudah diusulkan oleh Farizal kepada panitia perpisahanan tanpa bermusyawarah sebelumnya. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan bagi kami, karena kami belum pernah latihan band sekalipun, masuk dalam studio musik pun gak pernah.

   "GEDUBRAK DUBRAK JRENG JRENG JRENG" itulah bunyi bunyi yang berantakan pertama kali saat latihan di salah satu studio musik. Memang berantakan sekali saat pertama kita latihan. Perlahan tapi pasti kita sering latihan dengan serius dengan lagu andalan kami So far away milik Avenged sevenfold yang merupakan band favorit kita, bahkan nama band kita merupakan plesetan dari band tersebut. Sebulan sudah berlalu, terjadi perubahan yang bagus dari band kita. Kita terus berlatih dengan keras demi mewujudkan band yang layak dibilang band. Meskipun cacian dan makian dari teman sekelas kami ketika diminta pendapat tentang suara dari band kita yang telah di rekam dengan sebuah handycam milik Dewa kami terima semua itu dengan lapang dada meskipun dalam hati kecil kita itu sangat menyakitkan. Tapi tak apa! kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita akan menguasai dunia, entah kapan itu terjadi!.

   Akhirnya saat yang ditunggu itu telah tiba, semua persiapan sudah dilakukan. Akhirnya kita naik di panggung perpisahan yang terletak di aula sekolah. Kita hanyutkan suasana di aula dengan lagu So far away yang bertemakan perpisahan yang sangat tepat dibawakan waktu itu. Aku bernyanyi dengan sangat percaya diri, begitu juga teman temanku yang begitu santai mengiringi lagu ini. Impian pertama kita sudah terwujud, yaitu ditonton oleh cewek cewek cantik primadona di sekolah. Awal yang menjanjikan bagi kita.

   Mungkin itu adalah impian yang sudah berhasil bagi kita untuk yang pertama dan yang terakhir. Karena sebentar lagi kita akan masuk ke sekolah yang lebih tinggi lagi. Sudah bisa dipastikan kita akan berpisah. Farizal dan Narul akan melanjutkan sekolahnya di luar kota. Sedangkan Aku, Dewa, Rio dan Chandra masih menetap di sini. Akhirnya inti sari dari lagu So far away ini terjawablah sudah. Lagu ini seperti mewakili persaan kita ber enam. and I have so much to say but you're so far away. Dan lirik itulah yang membuatku menangis saat menyanyikan lagu ini.

   3 tahun sudah semenjak kita lulus dari sekolah kita dulu dan kini kita sudah menapak ke SMA kecuali Narul yang ke SMK. Sejak itu kita memang tidak pernah latihan main band lagi. Selama tiga tahun aku sudah tidak bertemu lagi dengan mereka, kecuali dengan Dewa, Rio dan Chandra yang satu sekolahan denganku. Akhirnya sebuah keajaiban muncul. Tiba tiba Farizal yang selama 3 tahun aku tak bertemu, dia meng-SMS aku, dia mengajak untuk berkumpul lagi setelah lulus dari SMA ataupun SMK bagi Narul. Dan dua minggu setelah Farizal mengajak kita untuk berkumpul lagi atau bisa disebut reuni, kita ber enam dinyatakan lulus dengan rata rata nilai yang memuaskan.Akhirnya kita berkumpul di studio musik langganan kita saat masih bersekolah di SMP dulu. Semua memang masih seperti dulu, Farizal masih menjadi orang yang paling tinggi diantara kita, perubahan justru terjadi pada Narul, dulu dia sangat culun dengan rambut rapinya, tapi sekarang dia begitu terlihat keren dengan rambut yang acak acakan seperti itu. Kita mengobrol dan bercanda mengenang masa lalu kita. Tak selang beberapa lama, kita masuk dalam studio musik tersebut untuk berlatih kembali dan mengenang masa lalu kita. Dan ternyata setelah 3 tahun tidak berlatih suara suara aneh itu kembali terdengar sangat tidak enak. Mungkin sudah agak pudarnya chemistri antara kita, sehingga membuat permainan kita seperti saat latihan pertama kali. Dan hal itu ku anggap wajar saja.

   Saat aku sedang senyum senyum sendiri, teman temanku bingung melihatku yang bertingkah seperti orang gila ini. "Kenapa lu?" tanya Dewa. "Ga ada apa apa, cuma keinget masa lalu aja" kataku sambil membetulkan posisi dudukku. "Iya gak kebayang banget. Dulu kita gak siapa siapa. Gak ada yang tau band kita kecuali temen sekelas doang. Tapi sekarang, hampir semua penikmat musik di Indonesia udah kenal kita" jawab Rio dengan sombongnya. "Gak nyangka banget" sambung Chandra sambil terkekeh. Kemudian kita semua tertawa bangga karena keberhasilan kita. Kita sudah buktikan pada teman sekelas kami dulu yang menganggap kita hanya band abal abal yang cuma bisa main main doang. Tapi sekarang? andaikan mereka yang telah mencaci maki kita dulu ada disini, aku akan tertawa puas di hadapan mereka sambil menunjuk pada batang hidung mereka sambil berkata "Lo liat gue sekarang!!!" dengan tatapan penuh dengan rasa dendam.


   Kita harus berterimakasih sebesar besarnya pada Falah, seorang produser musik terkenal dan teman kita juga waktu di SMP. Awalnya kita tak tau jika Falah akan menjadi produser musik yang terkenal, karena sejak dulu ia tak pernah aktif dalam kegiatan bermusik, dia justru lebih suka mengaji. Saat itu kita sedang manggung di salah satu konser musik di kampung, dan kita hanya dibayar dengan uang senilai seratus ribu rupiah dan satu kotak nasi untuk masing masing personil. Kita pun berjumpa dengan Falah yang kebetulan yang mempunyai hajatan tersebut. Sesungguhnya kami sangat malu saat kejadian itu. Karena rumah besar dan sangat mewah itu adalah milik teman kami saat di SMP dulu. Sedangkan kami? kami hanya memiliki satu kontrakan kecil untuk tinggal orang ber enam. "Eh itu bandmu yang dulu ya?" tanya Falah dengan wajah berbinar. "Iya fal, kamu sekarang kerja apa?" tanyaku. "Aku punya studio musik dan studio rekaman. Eh band kamu kalo latihan disini aja, gratis kok." jelasnya. "Beneran nih!?" tanya Dewa bersemangat. "Apasih yang kaga buat kawanku yang gila ini"jawab Falah sambil tertawa. "Makasih Fal, Thanks banget" jawab Chandra sambil tersenyum. "Eh kamu masih inget gak, dulu lu kan sempet kita jadiin menejer band kita kan saat SMP?" tanyaku. "Iye, dulu gila kamu pada, masa tiap latihan akuu terus yang bayarin. Nah aku kaga dapet apa apa! gila kamu" kata Falah. "Iye maafin deh, dulu kan belum ngerti apa apa. Eh kalo sekarang kamu mau gak jadi menejer kita?" kataku meyakinkan. "Serius nih?" sahut Falah. "Dua rius Fal!" canda Dewa. Kemudian tawa pun pecah dari kita semua. Hari itu juga Falah teman satu kelas saat SMP itu dulu menjadi menejer resmi band kita.

   Seiring berjalannya waktu kita mulai serius dalam bidang musik ini. sejak menjalin kerja sama dengan Falah, karir kami menanjak naik. Kita sudah mempunyai rekaman lagu lagu kita. Kita sudah semakin dikenal di kota asal kami ini. Kita mulai diundang di acara acara penting di kota kita, mulai dari acara 17 Agustus sampai acara perkawinan bupati. Sedikit demi sedikit lembaran uang yang kita terima semakin meningkat. Hal ini membuat kita ber enam dengan menejer kita sangat puas. Sebuah ide gila pun terucap kembali oleh Dewa. Dewa ingin mengajak kita untuk meninggalkan kota ini untuk pergi ke kota Jakarta untuk meniti karir bermusik dengan lebih serius. Setelah berbagai pertimbangan kita ber enam bersama menejer kita pun berangkat ke Jakarta dengan bermodal impian dan tekad serta restu orang tua.

    Perjalanan menuju Jakarta memang tak mudah. Karena diantara kami memang belum ada yang pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Kami berangkat menggunakan bis dan kami berangkat jam 4 sore dari terminal kota kami. Pada malam haripun kita tertidur pulas didalam bis bagian paling belakang. Tak terasa pagi pun menjelang kami baru bangun tidur dan kulihat bis sudah sangat sepi. Kami dibangunkan oleh kenek yang berlogat sunda "Udah sampe atuh mas, bayar dulu." katanya "Nih.." kataku sambil menyerahkan uang seratus ribuan. "Udah sampe Jakarta yah..?" kata Dewa yang baru bangun dari tidurnya. "Jakarta? Ini di Bandung atu kang.." katanya mengagetkan kami. "Bandung?" jawab kami bertuju dengan mata melotot. "Aduuh naon si akang teh.. Ini kan bis Bandung atuh.." jawab si kenek dengan santai. "Ahh sial nih! Gimana ini terus!?" kata Farizal dengan sedikit marah. "Ini gara gara kamu wa!" sambungnya. "Kok aku sih!?" sahut Dea yang emosinya juga sudah keluar. "Iya kalo kamu gak ngajak ke Jakarta pasti kita gak akan begini wa!" balas Farizal menyeringai. "Udah udah! ini memang udah jadi takdir kita untuk berada disini! Besok kita lanjutin perjalanan lagi ke Jakarta. Eh Ren, kamu punya sodara di Bandung kan? kita boleh gak nginep disana?" kata Chandra. "I.. Iya ntar aku telpon om ku dulu" jawabku sambil mengambil handphone dan menelpon om ku dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. "Udah turun sekarang" kata si kenek. "Iye iye kita turun" kata Chandra sambil memberikan uang perjalanan sama si kenek. Kami pun trun dari bis.  Tak lama kemudian om ku datang menemui kita yang masih berada di terminal kota Bandung. "Eh kalian nginep dirumah om aja ya? deket kok dari sini"kata om ku. "Iya om, makasih ya." kataku dan teman temanku. Kami menghentikan sebuah angkuta umum dan kami menaikinya kita suruh angkuta itu mengikuti om ku yang ada didepan dengan mengendarai motornya. "Ini bang" kataku sambil menyodorkan uang lima ribuan. "Apaan nih? lima rebu? ya kurang lah?"kata si supir angkuta itu. "La terus berapa bang? di kotaku juga 5 ribu". "Iye di kota lu di kota gue sepuluh ribuu" katanya yang menjengkelkan. "Yaudah nih" kataku sambil menambah uang lima ribu lagi dengan wajah kesal. Akhirnya kita sudah sampai di rumah om ku. Kita menginap dirumah itu untuk satu malam saja, karena kita harus berangkat ke Jakarta besok pagi. Pagi pagi kita dibangunkan oleh tanteku "Ayo bangun, katanya mau ke Jakarta?" kata tanteku. "Eh iya iya tante.." balasku dengan senyuman. "Eh ayo bangun woy" ku coba bangunkan temanku yang sepertinya sangat capek ini. "Udah pagi ya? yaudah ayo berangkat?" kata Narul. "GILA!!!" seru kami serentak. Setelah persiapan selesai kami berangkat ke Jakarta dengan naik bis jurusan Jakarta yang benar. Kami berpamitan pada om dan tanteku, dan tentu saja minta do'a restunya.

   Sesampainya di Jakarta kami mencari tempat kontrakan untuk tinggal kita ber tujuh. akhirnya kita menemukan sebuah kontrakan yang lumayan bagus dan biaya sewanya tak terlalu mahal bagi kami yang masih pengangguran. Kebetulan sekali tempat kontrakan kami berdekatan dengan studio musik di kota Jakarta. Kehidupan kami di Jakarta memang tak mudah, kami mencoba menawarkan rekaman kami pada produser musik di kota metropolitan ini. Tapi tak ada yang menerima kami. Artinya mereka semua menolak karya kami!. Sampai pada akhirnya kita akan menyerah dan tak punya apa apa lagi, semua harta kekayaan kami sudah habis untuk kebutuhan kami dan untuk sewa kontrakan ini, kita hanya bisa menjadi pengamen jalanan untuk menghidupi diri sendiri, tentu saja hal ini tidak diketahui orang tua kita. Saat kami ngamen banyak pengalaman yang kami dapatkan. Sampai kami mengenal pengamen lain yaitu Nico. "Pendatang baru ya bro?" sapa Nico saat pertama bertemu. "Iya nih, namamu siapa bro?" tanya ku sok akrab. "Nico. salam kenal ya" sapanya santai. "Iya, asal dari mana?" tanyaku kembali. "dari Jepara bro. Kalian?" "Ohh sama" jawab kami. "Eh ceper ngapain lu? ngamen sini!" kata seseorang pengamen diujung jalan. "Iye iye" jawab Nico. "Eh? kamu Nico? ceper? kamu inget kita gak?" tanya Rio. "Kalian?" jawab Nico. "Kamu murid SMP2 kan?" tanya Rio semangat. "Iye? eh jadi kamu!?" "Iya Nic, ini kami, anak sembilan f dulu.." jawabku. "Wahhh gila bisa ketemu disini.. Eh ini band lu yang dulu itu ya?" "Iya band kita dulu.." "Hebat masih bisa kumpul" Hehehe ya gitulah" jawabku sambil meneruskan langkah langkah yang tak menentu ini.

  "PENCARIAN BAKAT MENYANYI. SOLO, DUO, TRIO, BOY BAND, GIRL BAND, BAND, VOCAL GROUP" "Hey bro. liat ini" kataku sambil menarik brosur yang tertempel itu. "kita ikutin audisi ini, siapa tau kita yang jadi juara" kataku. "Iya. ini ada alamatnya nih. Kita samperin yuk!" kata Dewa semangat seperti biasa. "Ayo" teriak kami bersama. Akhirnya kita sampai pada tempat yang di tuju. Setelah mengambil nomer peserta, tak beberapa lama kami ber enam masuk ke tempat audisi dengan percaya diri tinggi, sedangkan Falah menunggu di luar ruangan. Kami keluar ruangan dengan wajah sumringah. Sebuah tiket untuk menuju babak penyisihan sudah ada di genggamanku. Falah menyambut kita dengan senang akan hal itu. Kita menyisihkan ribuan peserta lain dan itu bukanlah hal yang mudah. Dalam acara ini kita memang menjadi kandidat yang diunggulkan oleh para juri, tapi peserta lain bukanlah lawan yang mudah, mereka punya kualitas yang sangat bagus dibanding kita. Setiap minggu kita akan tampil untuk mendapat pujian ataupun cacian dari para juri, dan dalam satu minggu itu pula ada yang harus keluar dari kompetisi ini dan harus pulang dengan membawa pengalaman dan kenangan. Sampai pada babak babak berikutnya kami belum ter eliminasi. Saat saat mengangkan pada waktu final yang akan dilangsungkan nanti malam. "Aduh, gue deg degan nih" kataku sambil terus saja menyeka keringat di keningku dengan tissu. "Udah tenang aja bro. Kita tuh harus optimis, Okey?" kata Rio yang menyemangati. Dan kini giliran kami tampil, kami menampilkan penampilan yang terbaik kami. Saat aku bernyanyi kulihat teman teman SMP kita melihat penampilan kita. Aku pun melirik kearah Dewa untuk menunjukkan hal itu, dan Dewa sudah menyadari itu. Hal itu membuat kami lebih semangat lagi, kembali lagi suara rock ku pun menggelagar di seluruh ruangan. Akhirnya selesai sudah lagu So far away itu. Dan kulihat semua penonton bertepuk tangan sambil meneriakkan nama nama kita dengan lantangnya. Ketiga juri pun memberikan standing applause kepada kami. Komentar para juri pun tak ada yang negatif, hal itu membuat kami lebih optimis. Saatnya pengumuman juara pertama dalam ajang pencarian bakat yang terpopuler saat ini. Kami ber enam saling melingkarakan tangan kita ke bahu yang lain yang ada disamping kita. Dan kulihat seorang remaja cantik yang jadi musuh kita saat final ini sangat gugup dan grogi. Terdengar suara suara dari penonton yang membuat suasana lebih mendebarkan. "Dan... Yang akan jadi juara pertama adalah.." suara sang pembawa acara itu yang membuat kami semua gugup. "Selamat!! Avenged Soeph'fold! kalian memenangkan juara pertama!!!" kata sang pembawa acara dengan lantangnya. Mendengar hal itu kami langsung bersujud dan menyalami sang gadis cantik itu yang menjadi juara kedua. Kami pun sangat bangga dengan hal itu, dan ini menjadi awal karir kami di belantika musik Indonesia.

   Setelah kita dinobatkan sebagai juara pertama dalam ajang bergengsi ini, banyak, produser musik yang siap memproduseri kita. Kami sempat bingung memilih produser. Semuanya bagus dan berkualitas. Akhirnya kami putuskan untuk memilih salah satu produser yang terkenal dan dengan tawaran yang menjanjikan. Kami memiliki album, kami punya fans, semua wanita terkagum kagum dengan kami, kami punya semua yang kita impikan dulu. Artis artis papan atas yang dulu hanya bisa kami lihat di TV kreditan kita, kini pun sering berkolaborasi dengan kita. Baju dan pakaian yang dulu hanya bisa kita kagumi di balik kaca kaca distro pun kini kita miliki dengan cuma cuma dari pemberian sponsor. Dulu memang kita yang melihat TV, tapi sekarang? TV lah yang menampilkan kita sehingga mereka bisa melihat kita. Dan tak kusangka kerja sama dengan menejer kita Falah sangat lancar dan selama ini belum menemukan masalah. Proses administrasi lancar dan jadwal manggung aman terkendali. Tak kusangka Falah yang dulu hanya cuma menjadi menejer pura pura kita sekarang menjadi menejer yang sesungguhnya bagi kita.



    "Hemmm.. huuuufttttt..." suara nafasku yang terdengar santai. Aku tak tau proses terwujudnya semua impian itu. Apa semua itu berkaitan erat dengan takdir kita. Aku bingung dengan hal ini, jika bisa digambarkan takdir kita bagaikan jaring laba laba. Semua memang berbeda beda arah dan tujuan, tapi pada akhirnya kita akan bertemu pada satu titik ditengah tengah jaring itu setelah melewati cabang cabang disetiap jalan yang akan ditempuh.Entahlah? mungkin kita tidak pernah merencanakan ini, kita hanya bisa bermimpi dan menanti takdir yang akan menghadang kita di hari esok. Tapi sungguh aku sangat berterima kasih pada tuhan yang telah memberikan kita anugerah se keren ini. Tapi mengapa tuhan menolong kita saperti tidak menginginkan imbalan apapun dari kita. Tapi yang jelas menurut guru mengajiku saat kecil dulu tuhan hanya ingin kita mengingatnya dan melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita, yaitu berdoa dan beribadah. Cuma itu. Tuhan memang terlalu baik bagi kita. Memang kita saja yang tak pernah menyadarinya. Lama kelamaan aku sudah terjebak dalam nikmatnya melamun. Secara tidak sadar aku berdiam diri dan tak melakukan apapun kecuali mengedipkan mata dan bernafas. Aku merasakan diriku terperangkap dalam mesin waktu yang menjerumuskanku pada masa lalu. Sampai sekarang aku seperti tidak percaya dengan takdir yang sudah terjadi. Berawal dari ide gila Dewa menjadi sebuah kesuksesan yang luar biasa.

   "Eh lu jangan santai santai mulu lu.. Latihan woy.." teriak Dewa sambil tertawa. "Iya bentar" kataku sambil beranjak dari sofa yang nyaman itu. Dan kami pun memulai latihan kembali untuk konser kami yang akan digelar satu minggu lagi. Aku sadar semua keberhasilan ini memang kita raih dengan susah payah. Ini semua memang tidak mudah. Memang saat ini impian kita sudah tercapai semua dan aku yakin semua itu sudah diatur dalam takdir.

    Seminggu setelah itu... "Kawan Soeph' semua berteriak yo!!!" kataku sambil berjingkrak diatas panggung yang megah ini. Kawan soeph' memang nama fans kita. Kami menjadikan nama itu kepada kawan kawan kami yang dulu ada yang mendukung kami dan ada yang mencaci maki. Sesaat tadi lagu pamungkas kita yaitu so far away telah dinyanyikan. Lagu yang membuat kami sukses, lagu itu yang mengawali kesuksesan kami, dan lagu itu yang akan dan terus mempersatukan kami.

   Sekali lagi, aku tak pernah merasa benci dengan manusia manusia yang telah mencaci maki aku dan kawanku. Aku juga tak pernah merasa dirugikan dengan keadaan mereka. Karena apa? karena lbih banyak manusia manusia baik yang mendukung tekad dan impian kita. Orang tua dan teman adalah manusia terbaik yang pernah kutemui. Sekali lagi aku tersenyum angkuh merasakan ini.  Ini waktuku untuk menyombongkan diri dihadapan mereka.

    Konser telah usai, kulihat teman teman sudah mengemasi barang barangnya. Kulihat Falah sang menejer kita menerima amplop tebal yang diberikan sponsor. Ujang dan Wawan, 2 supir pribadi kita tengah memarkirkan mobil alphardku dan sebuah truk pengangkut barang kami. Semua fans telah mendatangi kami dan meminta tanda tangan atau sebuah foto dengan kami. Dan kamipun senang dengan itu. Bahkan aku pernah berharap seseorang yang telah mencaci maki kami dulu akan meminta tanda tangan kami dan meminta foto bareng dan aku bilang OKE!. Dan Nico sekarang jadi asisten pribadi kami. :D




   Ini semua memang masih impianku dan kita! Tapi kuharap ini terjadi. Semua tentangku, kamu, dia, mereka, dan kita akan kukenang kawan. Kuharap kalian tak melupakan aku dan kenangan kita. Memang semua masih impian tapi takdir akan buktikan. Dan untuk mereka yang merasa membenci kami dan mencaci maki kami, aku minta maaf dan berterima kasih untuk caci maki dan hinaannya. Aku juga tak akan lupa cacian kalian.:)
  

Komentar

Postingan Populer