Dulu, Sekarang Dan Selamanya
Aku duduk berdua denganmu malam ini. Kita duduk berhimpitan menyaksikan kedua cucu kita yang sedang bermain mobil mobilan. Kau membolak balik sebuah album foto. "Coba lihat ini. Kau masih ingat?" katamu lembut. "Aku akan selalu ingat sayang" kataku sambil membelai rambutmu yang sudah mulai beruban. Sebuah foto hitam putih. Sangat kuno. Kau mengelus sebuah foto itu sambil tersenyum. "Kamu culun" katamu. "Kamu juga" aku tertawa. Sebuah foto hitam putih dan dua orang anak kecil yang sedang bermain ayunan di suatu taman di tengah kota. Ya masa kecil ku.
1950-- Kulihat seorang wanita. Cantik sekali. Rambutnya panjang menyentuh punggungnya. Wajahnya sangat ceria. Dia sedang bermain ayunan bersama teman teman kecilnya yang lain. Aku langkahkan kaki kaki kecilku untuk mendekatinya. Saat sudah sampai dihadapannya. Bel sekolah berbunyi. Tandanya pulang. Akhirnya kau pulang dengan tantemu dengan naik sepeda tua yang sudah usang. Kau melihatku. Tersenyum padaku sambil melambaikan tangan. Aku membalas itu. Itu pertemuan pertama kami. Kemudian kami saling berteman. Dan bermain bersama. Seperti apa yang terlihat di foto itu.
Kemudian kau membalik kembali lembar di album foto. Kemudian kamu tertawa kecil melihat foto diriku yang berpakaian seragam SMA yang tengah menggandeng seorang gadis cantik dengan pita dikepalanya. Yang tidak lain tidak bukan adalah wanita yang sedang duduk semakin dekat denganku ini. Kau menepuk pundakku. "Ini awalnya" kau berkata lembut. "Bukan. Bukan itu awalnya. Tapi ini." Kataku menepuk bangga dadaku. Lalu kamu tersenyum. Aku membalas senyummu.
1963-- Hari kelulusan di SMA. Aku mendapat nilai terbaik di kelas. Aku lihat kamu yang duduk di bawah pohon kersen di ujung lapangan. Aku mendekatimu. "Hai apa kabar?" sapaku. "Eh.. eh ba.. baik baik. Kamu?" jawabmu gugup. "Iya aku baik! gimana nilai kamu?" tanyaku sambil duduk disampingnya. "Lumayan bagus, kamu?" tanyanya. "Iya. Aku dapat ranking satu lho!" aku menyombongkan diri. "Selamat ya.." kau tersenyum manis. Seperti 13 tahun yang lalu. Saat pertama aku bertemu denganmu. "Iya! terima kasih" aku juga tersenyum dan tertawa. Kau membalas senyumku.
Kau mempererat genggaman tanganmu. Aku balas itu dengan penuh kasih sayang. Aku melirik kearahmu. Kamu tersenyum. Sama manisnya saat pertama kali bertemu. Lalu kau tertawa. Aku tak tau apa yang kau tertawakan. Yang jelas kau pasti tertawa karena bahagia. Sejenak kau perhatikan agak lama foto saat pernikahan kita. Aku yang mengenakan jas warna hitam dengan rapi dan kau memakai gaun yang sangat anggun dan sedap dipandang mata.
1971-- Hari itu aku meminangmu. Awal kisah cinta kita sebenarnya. Tapi aku membantah semua itu. Bukan. Bukan dari sini awalnya. Tapi dari hati. Cinta memang tak mengenal waktu sayang. Kataku kepadanya saat itu. Kau nampak sangat cantik sekali. Dan aku sangat keren dengan jas hitam yang melekat ditubuhku. Aku mengucapkan ikrarku saat itu. Ikrar sehidup semati bersamamu.
"Andi.. Dimana dia sekarang? bagaimana kabarnya?" katamu halus sambil mengelus foto bayi yang kau gendong dan aku ada disampingmu. "Tenanglah.. Dia lelaki yang hebat. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri." aku coba menenangkan. Kamu hanya menangguk. Andi adalah anak semata wayang kami. Dia bekerja di Singapura sejak 3 tahun yang lalu bersama istrinya. Kedua anaknya Ariyo dan Satriyo dititipkan kepada kami.
1975-- "Kamu harus kuat ya ma.." kataku sambil terus menggenggam tangan istriku. "Iya pa.." istriku terlihat sangat kelelahan. Atau bahkan sedang kesakitan. Dan akhirnya. Tangisan bayi terdengar sangat kerasnya. "Laki laki yang sehat pak. Sangat tampan." kata bidan. Kemudian istriku tersenyum lega setelah bayi itu diletakkan di atas perutnya dan bisa memeluknya. "Kita namakan siapa?" tanyaku. "Aku ingin namanya Andi" jawabnya tersenyum. "Andi, nama yang hebat! aku yakin dia akan bisa melebihiku suatu hari nanti." aku tersenyum bangga. Istriku juga tersenyum.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanyamu. "Tidak!" jawabku singkat. "Kenapa begitu?" kau seperti marah. "Karena aku akan tetap mencintaimu. Dan aku tak akan pernah berhenti mencintaimu" aku tersenyum sambil memeluknya. "Hahaha aku juga" kamu tertawa. Aku tertawa. Dan kulihat Ariyo dan Satriyo sudah mulai menguap. Dan mereka segera mencuci tangan dan kaki ke kamar mandi dan segera tidur. Malam semakin larut. Kita berdua masih duduk berdua di sofa sambil menyaksikan televisi yang acaranya semakin membosankan saja. Kita nikmati malam ini hanya berdua. Dunia sekarang milik kita berdua. "Ayah?" katamu memecahkan suasana. "Iya ada apa?" aku menjawabmu dengan lembut. "Apa kau masih benar benar mencintaiku?" tanyanya kembali. "Cinta itu tak kenal apa itu yang dinamakan waktu sayang, cinta hanya butuh saling pengertian dan kasih sayang kita berdua. Aku masih mencintaimu sama seperti kita pertama bertemu. Bahkan lebih dari itu." kataku menerangkan. "Andaikan aku mati? apa kau akan berpaling?" pertanyaanmu semakin menyulitkan. "Tentu saja tidak, Cinta juga tak akan ikut mati saat raga seseorang yang kau cintai sudah tiada. Memang aku tak akan pernah lagi bisa mencium ataupun memelukmu. Tapi aku masih bisa merindukanmu dan mendoakan mu agar cinta kita tak pernah padam sayang" jawabku. Dan kemudian kau menguap. "Aku sudah mengantuk. Ayo tidur saja." kau berdiri dengan masih menggandeng tanganku.Kau mengembalikan album foto itu pada lemari. "Meskipun kita beristirahat cinta kita akan terus beraktifitas kan?" aku bertanya. "Kau masih seperti dulu yang sok puitis" kau tertawa. Aku ikut tertawa.
"Dulu, Sekarang, dan Selamanya aku akan selalu mencintaimu sayang" aku berbisik dan mencium kening istriku yang sudah terlelap.
Love, it has so many beautiful faces
Sharing lives and sharing days
My love it had so many empty spaces
Im sharing a memory now
I hope thats how it stays
Now Im deep inside love and still breathing
She is holding my heart in her hand
Im the closest Ive been to believing
This could be love forever
All throughout my life
The reasons Ive demanded
But how can I reason
With the reason Im a man
Oh, oh-oh-oh-oh yeah
Hmm
In a minute Im needing to hold her
In an hour Im cold, cold as stone
When she leaves it gets harder and harder
To face life alone
Now my dreams are filled
With times when were together
Guess what I need from her
Is forever love
Ooh, Ooh, yeah
Oh, oh, oh, oh, mm-mm-mm
Oh, oh, yeah
Now I feel forever love
Ooh, ooh
Oh yeah
Well I feel...
2012-- Aku masih setia...
1950-- Kulihat seorang wanita. Cantik sekali. Rambutnya panjang menyentuh punggungnya. Wajahnya sangat ceria. Dia sedang bermain ayunan bersama teman teman kecilnya yang lain. Aku langkahkan kaki kaki kecilku untuk mendekatinya. Saat sudah sampai dihadapannya. Bel sekolah berbunyi. Tandanya pulang. Akhirnya kau pulang dengan tantemu dengan naik sepeda tua yang sudah usang. Kau melihatku. Tersenyum padaku sambil melambaikan tangan. Aku membalas itu. Itu pertemuan pertama kami. Kemudian kami saling berteman. Dan bermain bersama. Seperti apa yang terlihat di foto itu.
Kemudian kau membalik kembali lembar di album foto. Kemudian kamu tertawa kecil melihat foto diriku yang berpakaian seragam SMA yang tengah menggandeng seorang gadis cantik dengan pita dikepalanya. Yang tidak lain tidak bukan adalah wanita yang sedang duduk semakin dekat denganku ini. Kau menepuk pundakku. "Ini awalnya" kau berkata lembut. "Bukan. Bukan itu awalnya. Tapi ini." Kataku menepuk bangga dadaku. Lalu kamu tersenyum. Aku membalas senyummu.
1963-- Hari kelulusan di SMA. Aku mendapat nilai terbaik di kelas. Aku lihat kamu yang duduk di bawah pohon kersen di ujung lapangan. Aku mendekatimu. "Hai apa kabar?" sapaku. "Eh.. eh ba.. baik baik. Kamu?" jawabmu gugup. "Iya aku baik! gimana nilai kamu?" tanyaku sambil duduk disampingnya. "Lumayan bagus, kamu?" tanyanya. "Iya. Aku dapat ranking satu lho!" aku menyombongkan diri. "Selamat ya.." kau tersenyum manis. Seperti 13 tahun yang lalu. Saat pertama aku bertemu denganmu. "Iya! terima kasih" aku juga tersenyum dan tertawa. Kau membalas senyumku.
Kau mempererat genggaman tanganmu. Aku balas itu dengan penuh kasih sayang. Aku melirik kearahmu. Kamu tersenyum. Sama manisnya saat pertama kali bertemu. Lalu kau tertawa. Aku tak tau apa yang kau tertawakan. Yang jelas kau pasti tertawa karena bahagia. Sejenak kau perhatikan agak lama foto saat pernikahan kita. Aku yang mengenakan jas warna hitam dengan rapi dan kau memakai gaun yang sangat anggun dan sedap dipandang mata.
1971-- Hari itu aku meminangmu. Awal kisah cinta kita sebenarnya. Tapi aku membantah semua itu. Bukan. Bukan dari sini awalnya. Tapi dari hati. Cinta memang tak mengenal waktu sayang. Kataku kepadanya saat itu. Kau nampak sangat cantik sekali. Dan aku sangat keren dengan jas hitam yang melekat ditubuhku. Aku mengucapkan ikrarku saat itu. Ikrar sehidup semati bersamamu.
"Andi.. Dimana dia sekarang? bagaimana kabarnya?" katamu halus sambil mengelus foto bayi yang kau gendong dan aku ada disampingmu. "Tenanglah.. Dia lelaki yang hebat. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri." aku coba menenangkan. Kamu hanya menangguk. Andi adalah anak semata wayang kami. Dia bekerja di Singapura sejak 3 tahun yang lalu bersama istrinya. Kedua anaknya Ariyo dan Satriyo dititipkan kepada kami.
1975-- "Kamu harus kuat ya ma.." kataku sambil terus menggenggam tangan istriku. "Iya pa.." istriku terlihat sangat kelelahan. Atau bahkan sedang kesakitan. Dan akhirnya. Tangisan bayi terdengar sangat kerasnya. "Laki laki yang sehat pak. Sangat tampan." kata bidan. Kemudian istriku tersenyum lega setelah bayi itu diletakkan di atas perutnya dan bisa memeluknya. "Kita namakan siapa?" tanyaku. "Aku ingin namanya Andi" jawabnya tersenyum. "Andi, nama yang hebat! aku yakin dia akan bisa melebihiku suatu hari nanti." aku tersenyum bangga. Istriku juga tersenyum.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanyamu. "Tidak!" jawabku singkat. "Kenapa begitu?" kau seperti marah. "Karena aku akan tetap mencintaimu. Dan aku tak akan pernah berhenti mencintaimu" aku tersenyum sambil memeluknya. "Hahaha aku juga" kamu tertawa. Aku tertawa. Dan kulihat Ariyo dan Satriyo sudah mulai menguap. Dan mereka segera mencuci tangan dan kaki ke kamar mandi dan segera tidur. Malam semakin larut. Kita berdua masih duduk berdua di sofa sambil menyaksikan televisi yang acaranya semakin membosankan saja. Kita nikmati malam ini hanya berdua. Dunia sekarang milik kita berdua. "Ayah?" katamu memecahkan suasana. "Iya ada apa?" aku menjawabmu dengan lembut. "Apa kau masih benar benar mencintaiku?" tanyanya kembali. "Cinta itu tak kenal apa itu yang dinamakan waktu sayang, cinta hanya butuh saling pengertian dan kasih sayang kita berdua. Aku masih mencintaimu sama seperti kita pertama bertemu. Bahkan lebih dari itu." kataku menerangkan. "Andaikan aku mati? apa kau akan berpaling?" pertanyaanmu semakin menyulitkan. "Tentu saja tidak, Cinta juga tak akan ikut mati saat raga seseorang yang kau cintai sudah tiada. Memang aku tak akan pernah lagi bisa mencium ataupun memelukmu. Tapi aku masih bisa merindukanmu dan mendoakan mu agar cinta kita tak pernah padam sayang" jawabku. Dan kemudian kau menguap. "Aku sudah mengantuk. Ayo tidur saja." kau berdiri dengan masih menggandeng tanganku.Kau mengembalikan album foto itu pada lemari. "Meskipun kita beristirahat cinta kita akan terus beraktifitas kan?" aku bertanya. "Kau masih seperti dulu yang sok puitis" kau tertawa. Aku ikut tertawa.
"Dulu, Sekarang, dan Selamanya aku akan selalu mencintaimu sayang" aku berbisik dan mencium kening istriku yang sudah terlelap.
Love, it has so many beautiful faces
Sharing lives and sharing days
My love it had so many empty spaces
Im sharing a memory now
I hope thats how it stays
Now Im deep inside love and still breathing
She is holding my heart in her hand
Im the closest Ive been to believing
This could be love forever
All throughout my life
The reasons Ive demanded
But how can I reason
With the reason Im a man
Oh, oh-oh-oh-oh yeah
Hmm
In a minute Im needing to hold her
In an hour Im cold, cold as stone
When she leaves it gets harder and harder
To face life alone
Now my dreams are filled
With times when were together
Guess what I need from her
Is forever love
Ooh, Ooh, yeah
Oh, oh, oh, oh, mm-mm-mm
Oh, oh, yeah
Now I feel forever love
Ooh, ooh
Oh yeah
Well I feel...
2012-- Aku masih setia...
Cintailah seseorang dengan sederhana, yaitu cintai sejauh dan semampu yang kau bisa :)


Komentar
Posting Komentar