Hanya Ayana

  Aku pertama kali mengenalmu saat kita sama sama masuk ke SMA favorit di kota ini. "Hai! Boleh kenalan?" katamu sambil menepuk pundakku. "I.. Iyaa.. Siapa kamu?" tanyaku sambil mengusap air mataku. "Aku Ayana, kamu siapa?" jawabmu sambil tersenyum. "Aku Ario" jawabku singkat. "Senang bertemu denganmu Ario" kamu tersenyum lagi. "Iya sama sama.. hehe" aku juga tersenyum. "Eh aku udah di jemput, udah dulu ya Ario.." kamu melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku juga melambaikan tanganku sambil tersenyum. Itu adalah saat saat paling mengesankan dalam hidupku. Sebelumnya, aku memang tak pernah dekat dengan wanita. Aku cenderung menyendiri. Tapi sejak bertemu denganmu, dunia serasa berubah.

   Ayana memang gadis yang cantik. Kulitnya yang putih, rambutnya yang panjang, matanya yang sayu, pipinya yang menggemaskan, dia benar benar cantik. Selain cantik dia juga baik hati dan tidak sombong. Tidak salah lagi kalau banyak cowok cowok di sekolah yang menyukainya. Sebenarnya aku juga menyukainya. Tapi aku tidak mau mengungkapkan perasaanku ini. Aku takut kalau ternyata Ayana tak suka padaku.

   Aku kerap kali cemburu jika melihat Ayana duduk berdua dengan laki laki lain. Tapi aku sangat senang jika Ayana mengajakku mengobrol atau makan di kantin sekolah. Sampai pada saatnya aku begitu mencintai Ayana. Ya. Hanya Ayana yang ada di pikiranku.

    Akhirnya aku mengungkapkan perasaanku pada Ayana. Sebelumnya aku menganggap hal ini terlalu nekat buat laki laki pendiam sepertiku. Tapi aku beranikan diri. Karena aku memang benar benar mencintai Ayana. Seperti biasa aku mengajak Ayana ke kantin. "Ay.." kataku. "Iya ada apa yo?" jawabmu. "Aku pengen bilang sesuatu ay.. Tapi kamu jangan marah ya ay.." kataku gugup. "Iya ada apa emangnya yo? kok gugup gitu sih?" katamu sambil tersenyum. "Eh.. Eng.. Enggak kok.." "Iya apa yang mau kamu omongin tadi?" tanyanya. "Ayana.. Aku suka kamu ay.." kataku sambil menatap tajam matamu. "Ario? Benarkah itu yo?" jawabnya agak terkejut. "Eh.. Maaf ay.. Aku memang suka sama kamu.." aku sangatlah gugup. "Hahaha ngapain minta maaf yo? kamu gak salah kok" katamu sambil tersenyum. "I.. Iya iya.. Makasih ya ay.." aku balas senyummu.

   Aku belum tau jawaban dari Ayana, apa dia juga suka denganku atau tidak. Hal ini sungguh membuatku galau. Ya mungkin ini adalah kali pertama aku rasakan galau. "Teng Teng Teng!" suara bel pulang itu membuyarkan lamunanku. Aku segera bergegas dan merapikan peralatanku. Sampai didepan gerbang aku dikejutkan dengan sebuah tepukan lembut di pundak sebelah kananku. "Arioo.. Belum pulang?" sapa Ayana. "Be.. Belum ay.. Kamu sendiri kenapa belum pulang?" jawabku. "Ayahku ada rapat yo, jadi aku harus pulang sendiri" katamu sambil tersenyum. "Kamu mau nganterin aku gak yo?" sambungmu. "Iya, kamu mau kemana ay? kebetulan juga aku gak ada acara nih hehehe" aku terkekeh. "Makan yuk!" ajakmu. "Kamu udah laper lagi? yaudah deh.. Ayoo kemana nih?" "Kesitu tuh! aku yang traktir kok." katamu sambil menunjuk sebuah restoran cepat saji diujung jalan. Dan tanpa sadar Ayana menggandeng tanganku. Aku tersenyum melihat hal ini.

   "Ahh..." desahku sesaat setelah aku menghempaskan tubuh ini di kursi restoran yang empuk ini. Tak beberapa lama seorang pelayan dengan dandanan rapi menghampiri kami. "Pesan apa mbak?" tanyanya. "Aku Beef steak aja mbak, ama kentang goreng satu ya. Kamu pesen apa yo?" tanya Ayana yhang membuyarkan lamunanku. "Eh.. Iya iya ada apa ay?" aku gelagapan. "Eh malah ngelamun, ngelamunin apaan sih yo?" tanya Ayana. "Ah enggak apa apa kok. Aku pesan sama kayak kamu ajadeh." kataku.

  Aku memainkan handphone ku selagi menunggu pesanan diantar. "Ario.." suara Ayana memecah. "I.. Iya ada apa ay?". "Kamu bener suka sama aku yo?" tanya Ayana dengan menatap mataku. "I.. Iyaa ay, tapi maaf ya, aku lancang ngomong begitu sama kamu.." aku memalingkan kepalaku karena sangat malu. "Hehehe enggak apa apa kok yo.. Wajar ajalah seorang remaja kayak kita itu suka ama lawan jenisnya.." "Aku juga suka sama seseorang" sambungmu dengan tersenyum lebar. "Oh ya? siapa ay?" tanyaku bersemangat. ""Adadeh.. Eh tuh makanannya udah dateng".

   "Aahh kenyang.. Enak makanannya ay.." kataku. "Iya, ini restoran favoritku yo" Ayana menjelaskan. "Hehe iya ay.. Eh hidungmu berdarah ay.. Kamu mimisan..?" kataku sedikit terkejut melihat darah mengalir di hidung Ayana. "I.. Iya mungkin aku kecapean ajasih.. Hehehe" kata Ayana sambil mengusapkan tissue ke hidungnya. "Kamu beneran gak apa apa ay?" tanyaku. "I.. Iya beneran gak apa apa.." "Yaudah pulang aja yuk.." ajak Ayana. "Iya aku anterin kamu ya ay.." "Hehe gak usah yo.. Aku bisa pulang sendiri kok.." jawab Ayana dengan tersenyum.

   Ayana sering kali memegang kepalanya. "Kamu pusing ay?" tanyaku. "Iya sih sedikit.." kata Ayana yang masih memegang kepalanya. "Beneran kamu gak apa apa ay? Aku anterin kamu pulang aja ay.. Kasian kamu kalo nanti terjadi apa apa." "Iya, aku nggak apa apa kok yo, aku pulang sendiri aja" "Iya ay.. Em.. Hati hati ya.." "Eh yo." "Iya aada apa ay?" tanyaku. "Soal jawaban aku suka denganmu nanti malam aku akan telpon kamu. Tapi kamu nanti jangan telpon aku ya. Janji?" kata Ayana sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Iya janji.." sahutku sambil melingkarkan kelingkingku. "Tapi kalau kamu kelupaan menelponku?" tanyaku. "Aku tak akan lupa. Tapi jika aku tak menelponmu, besok pagi kamu bisa datang kerumahku untuk tau jawabannya" balasmu. "Okey. Hati hati di jalan ya ay..." kataku sambil melembaikan tangan. "Iya.. kamu juga ya.. Sampai jumpa.." kulihat Ayana masuk kedalam taksi.

  Alunan nada dering dari handphone ku tak kunjung berbunyi. Aku mulai gusar menunggu jawaban dari Ayana. Ku genggam erat handphoneku. Perasaanku sudah mulai campur aduk. Antara bingung dan khawatir. "Ayana.. Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan pertanyaan yang terus membayangiku. Sampai pukul 11 malam Ayana belum juga menelponku. Karena terlalu lama menunggu aku akhirnya tertidur. Dalam tidurku aku sempat bermimpi bertemu Ayana. Ayana tampak begitu cantik sekali dengan gaun warna putih. Dia menari nari di taman yang sangat indah. Penuh dengan bunga yang sedang bermekaran. Tapi aku tak tahu dimana itu berada. Kemudian aku berlari mendekati Ayana. Ayana menjauh dariku. "Ario, ini bukan saatnya bagi kamu. Aku sangat bahagia jika aku bersamamu. Kamu disitu aja yo. Aku janji aku akan selalu ada untukmu yo" kata Ayana sambil tersenyum dan kemudian dia lenyap. "Makasih ay..." jawabku.

  Aku terbangun oleh suara tanda sms masuk. Aku berharap jika Ayana yang meng-SMSku. Tapi kulihat ternyata Ochi, teman sekelasku yang juga teman akrab Ayana yang mengirimnya. "Ada apa Ochi SMS?" kubuka pesan darinya. "Innalillahi Wa Innailaihi Raajiun. Turut berduka cita atas meninggalnya teman kita, sahabat kita, kawan kita.. Nabilah Ayana Ayu. Tadi malam pukul 11 karena penyakit tumor otak yang sudah dideritanya dari SMP. Operasi yang sudah di lakukan sore kemarin tak mampu menolong nyawanya. Selamat jalan Ayana. Semoga tuhan menempatkanmu di tempat yang terindah.". Dan tangisanku memecah. Aku terpaku melihat tulisan itu. Aku coba menahan kesedihanku ini. Memang aku benar benar mencintai Ayana. Tapi kenapa Ayana pergi secepat ini? "Ayanaaaa! jangan pergiiiii" batinku dalam hati.

  Ayana. Hanya Ayana yang ada di pikiranku. Hanya Ayana yang ku cintai. Dari awal sampai akhir. Aku tetap mencintai Ayana. Semua kenangan tentang Ayana kembali menyeruak. Saat kita bernyanyi nyanyi bersama dengan lagu kesukaan kita, saat kau mengajakku makan di kantin sekolah, saat aku memarahimu karena alasan yang tidak jelas, saat aku mendengarkan suaramu yang lembut dan saat kau memintaku untuk menunggu telpon darimu. Apa Ayana juga mencintaiku? Ku harap iya...

  "Assalamualaikum.." aku memasuki rumah Ayana. Keluarga, saudara, kerabat dan teman temanmu sudah berkumpul di rumah duka. Kulihat sebuah kain putih menyelimuti dirinya. Aku duduk di sudut ruangan. Sambil terus membaca doa doa dengan harapan kau bisa tenang meninggalkan dunia ini. Meninggalkanku. Yang tanpa jawaban.

   "Ario" ibu Ayana memanggilku. "I.. Iya tante.." jawabku. "Ini ada titipan dari Ayana sebelum meninggal, katanya titipan ini buat kamu yo.." kata Ibu Ayana sambil menyerahkan sebuah amplom berwarna putih kepadaku. "Terima kasih tante.. Saya turut berduka cita ya tan.. Semoga Ayana ditempatkan disisi tuhan" "Amin yo.." kata Ibu Ayana dan pergi meninggalkanku.

  Amplop itu kubuka perlahan. Kubaca perlahan lahan kata demi katanya..  

   "Dear Ario, Maaf jika kemarin aku tak bisa menelponmu. Aku harap kamu tidak marah Ario. Maaf banget aku nggak bisa ngasih tau jawaban itu langsung ke kamu. Maaf juga aku tidak memberi tahumu soal penyakit ku ini. Terima kasih kamu telah memberi kenangan yang indah di akhir hidupku. Aku sangat senang sekali jika aku ada di dekatmu. Yah.. Mungkin kita tidak bisa bertemu lagi. Tapi aku ingin kamu selalu mengingatku dan mendoakan kesembuhanku. Dan jika nanti aku telah tiada, tolong kamu selalu berdoa untukku. Karena aku juga akan selalu mendoakanmu disini. Aku nyaman disini Ario. Dan Ario, Sesungguhnya, Aku juga suka kamu :)"

  Akhirnya terjawablah sudah. Aku tak tau harus bagaimana. Aku sedih karena kehilangan Ayana. Untuk selamanya. Aku senang karena Ayana juga suka padaku. Tapi itu percuma. Ayana sudah tiada. Tapi aku berjanji. Aku akan selalu mencintai Ayana. Hanya Ayana.

 
Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call I’m desperate for your voice
I’m listening to the song we used to sing
In the car, do you remember, butterfly, early summer?
It’s playing on repeat, just like when we would meet
Like when we would meet



I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight


Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious
You and me, flesh to flesh
’Cause every breath that you will take
When you are sitting next to me
Will bring life into my deepest hopes, what’s your fantasy?
What’s your, what’s your


I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight


And I’m tired of being all alone
And this solitary moment makes me want to come back home
 

And I’m tired of being all alone
And this solitary moment makes me want to come back home


And I’m tired of being all alone
And this solitary moment makes me want to come back home
 

And I’m tired of being all alone
And this solitary moment makes me want to come back home


I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
 

I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight




Cinta yang sesungguhnya tidak butuh pelukan atau ciuman, Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang membutuhkan adanya pengertian dan saling mendoakan.

Komentar

Postingan Populer