Sudah Harusnya Begini

  "Plakkk" sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. "Aku ingin kita putus!" kata Virra dengan nada keras. "Oke fine! Kita putus!" kataku sambil membalik dan pergi menjauh. "Jangan mengharapkanku lagi" katamu dengan keras. Aku tak menoleh sedikitpun aku hanya berjalan dan berjalan. Menjauh dari dirinya yang sangat pencemburu.
 ***
  Namaku Aldi. Ya hal itu yang kualami siang tadi. Virra memang gadis yang sangat aku cintai. Dia cantik, baik, pintar, dan ah.. Aku sungguh merasa sangat kehilangannya.

  "Peduli apa aku dengan cewek pencemburu sepertinya!" umpatku didalam taksi. Tak berapa lama aku turun di depan rumahku. Dengan segera kuhempaskan tubuh ini ke kasur empuk di kamarku. Kulihat handphoneku. Terlihat wajah Virra dengan senyumannya menghiasi wallpaper handphoneku. Kubanting dengan keras handphoneku di sisi kananku. "Kamu kenapa sih Virra!? Aku masih sayang kamu! Aku masih cinta kamu! Tapi aku benci sama sikapku yang pencemburu itu!?" kataku dalam batin. "Argh! sial! kenapa gue masih mikirin Virra?" "Harusnya gue lupain aja tuh cewek sialan itu!" kataku dengan nada agak kesal.

  "Emang cewek cuman lo doang!?" "Masih banyak yang mau sama gue!" kataku sambil meremas foto Virra yang sedang memelukku. Kubuang foto itu ke tong sampah diujung kamarku. "Krriinggg Krriingg Krriingg" bunyi nada dering sms dari handphone disebelahku. "Sayang, lagi apa? :*" isi sms dari Shania. Aku tersenyum melihat itu. Kenapa tak terfikirkan? Shania juga cantik. Ya Shania adalah pacar simpananku. Selama ini aku memang sudah membagi cintaku antara Shania dan Virra. Tapi kuakui sungguh aku lebih cinta pada Virra.

  "Hai sayang, aku lagi mikirin kamu nih :*" balasku. Dan aku memulai hidupku dengan Shania. Bukan lagi Virra yang pencemburu itu.

  Sudah 1 bulan lamanya aku putus dengan Virra. Kini aku menikmati cintaku hanya kepada Shania. Tapi entah mengapa aku merasa ada yang berbeda dari Shania. Aku tak benar benar mencintai Shania seperti pada aku mencintai Virra dulu. Aku masih belum bisa melupakan Virra. Aku boleh mengakui. Aku masih mencintai Virra. Shania bukan cewek ceria seperti Virra, dia sangat pendiam. Shania bukan cewek pintar seperti Virra, bahkan Shania hampir tidak naik kelas. Virra begitu perhatian padaku, tapi Shania? untuk menyapaku saja ia tak pernah. Tapi aku harus mencoba mencintai Shania seperti halnya aku mencintai Virra dulu.

  Hari ini aku mengajak Shania pergi ke distro untuk membeli baju buat adikku yang ulang tahun. Kuamati satu persatu baju yang tergantung rapi. Sambil sesekali melihat lihat jika ada yang bagus. "Menurutmu ini bagus enggak Shan?" kataku sambil memperlihatkan sebuah kaos warna merah kepada Shania. "Em.. Bagus bagus.." jawabnya singkat. Sedang asyiknya aku melihat lihat, pintu distro terbuka. Ternyata Virra lah yang datang. Dia sendirian. Waooww dia tampak sangat cantik dengan baju warna biru yang ia pakai. Aku menatapnya sejenak. Dia melirikku. Kubuang wajahku. Aku sangat malu dengan Virra. Tapi aku bertingkah seperti tak pernah mengenalnya. Aku sempat melihat Virra tersenyum saat melihatku.

  Kugenggam erat tangan Shania dan menggandengnya keluar distro itu. "Kamu apa apaan sih Al?" bentak Shania sambil melepaskan gandenganku. "Ada Virra didalam" aku coba menjelaskan. "Jadi kamu masih cinta pada Virra!?" tanya Shania sambil menunjuk hidungku. "Tidak, aku cinta kamu Shania.." ku genggam kembali tangan Shania. Shania menepisnya. "Pokonya kita putus! Aku gak mau adalagi cinta yang lain!" Shania lalu pergi meninggalkanku. "Sial! Shania ternyata sama saja!" gumamku.

  Aku lalu pulang. Aku merasa sangat kacau. Aku merasa kebingungan. Aku tak tau harus bagaimana. Dalam semua kebingungan itu kemudian terlintas sebuah nama. Virra. Aku pejamkan mataku. Aku melihat Virra tersenyum padaku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Dengan tulus.

  Lalu aku bangkit dari tidurku. Aku berjalan kearah tong sampah diujung kamarku. "Aku masih cinta kamu Virra! Aku gak bisa melupakan kamu!" kataku sambil terus memandangi foto Virra yang sudah agak lusuh. "Tapi aku tau. Kamu pasti membenciku. Sangat membenciku" aku berbisik. "Kamulah cinta pertama dan terakhirku Virra! Kau tak akan bisa terganti".

  Sore itu juga aku putuskan untuk meminta maaf pada Virra dan aku ingin berkata jujur tentang apa yang aku rasakan. Kulajukan motorku dengan cepat. Aku sempatkan untuk membeli bunga mawar merah kesukaannya. Aku kembali ke distro itu. Tepat. Aku masih melihat Honda Scoopy milik Virra yang masih diparkir di depan distro.

  Dengan langkah pasti aku langkahkan kakiku mendekati pintu distro itu. Tapi sejenak langkahku terhenti oleh seorang lelaki yang memasuki distro itu. Kulihat Virra sedang menyapa lelaki itu dari luar pintu distro. Kini aku benar benar menghentikan langkahku setelah kulihat lelaki itu memeluk Virra. Aku cuma terdiam. Aku tak tau harus bagaimana. Aku tak patut cemburu apalagi sakit hati. Aku hanya bisa diam dan menunggu. Ya aku memang masih benar benar mencintai Virra. Semoga saja Virra punya rasa yang sama. :)

Menjadi lelaki harus tabah menjalani
Meski harus menyisakan perih yang terlupakan di hati
Menjadi lelaki harus setia menemani
Di setiap hembusan tiap deru getaran di hati


Mungkin sudah harusnya begini
Tangguh tak berarti tak menangis
Dan semua awal yang tak pasti
Harus jadi perjalanan panjang ooh


Menjadi lelaki harus kuat dan berani
Menahan tangis dan rasa sesak ditinggalkan
Menjadi lelaki harus sabar dan berarti
Melihat wanita yang tercinta belanja di toko depan sana


Mungkin sudah harusnya begini
Tangguh tak berarti tak menangis
Dan semua awal yang tak pasti
Harus jadi perjalanan panjang ooh


Menjadi lelaki harus kuat dan berani
Menahan tangis dan rasa sesak ditinggalkan
Menjadi lelaki harus sabar dan berarti
Melihat wanita yang tercinta belanja di toko depan sana


Oooo ooo oooo
Menjadi lelaki harus sabar dan berarti
Melihat wanita yang tercinta belanja di toko depan sana...


***
  Dan. 6 bulan sudah berlalu. Kerja kerasku untuk kembali mendapatkan Virra tak sia sia. Akhirnya Virra sudah putus dengan lelaki itu. Aku sungguh bahagia. Lebih bahagianya lagi ternyata Virra juga mengalami apa yang pernah aku rasakan juga. Kini aku berjanji akan selalu mencintai Virra. Cukup hanya Virra. Tak tergantikan!.


Seberapapun tangguhnya lelaki dia juga akan merasa sedih jika ditinggalkan oleh seorang kekasih hati yang paling dia cintai.


Komentar

Postingan Populer