Hujan Ini...
Sejenak aku melihat ke arah jendela. Hujan pertama di bulan Oktober sudah membasahi jalanan dan seluruh kota ukir ini. Aku hanya tersenyum. Mugkin hanya satu atau dua jam saja kebahagiaan itu datang. Ah hujan...
Lalu aku keluar kamar. Hujan itu sudah selesai. Bau khas setelah hujan mulai tercium. "Hemmm..." kutarik nafas yang panjang. Lalu aku mengeluarkannya. Bersamaan dengan kenangan. Pada saat itu. Di hari Sabtu sore, saat kita terjebak derasnya hujan di depan kelas...
08102011-- Kau menggenggam erat tanganku. Kau tampak menggigil. Genggamanmu semakin erat. Kulingkarkan tanganku di bahumu. Hanya sekedar memelukmu agar kau tidak kedinginan lagi. Kau menatapku. Aku hanya tersenyum. Mungkin sudah berjam jam aku dan kau duduk disini. Anak anak yang hujan hujan sambil bermain bola itu sudah pulang. Entah mengapa? hujan ini belum berhenti. Tak sepatah katapun keluar dari mulutmu ataupun mulutuku. Hanya saja aku sudah bisa merasakan kebahagiaan itu melalui bahasa tubuhmu.
Kugeser sedikit tubuhmu. Kulihat jam tangan. Tak terasa sudah tiga jam kita duduk dan berpelukan disini. Sekolah sudah sangat sepi. Kita masih saja disini. Menikmati udara udara basah hujan. Ah serasa sekolah ini milik kita berdua saja. Batinku sambil tersenyum. Dan mempererat pelukanku.
Petang sudah datang. Dan hujanpun sudah berhenti. "Pulang yuk" katamu. "Iya kita pulang" jawabku sambil berdiri. Aku juga membantumu berdiri. Lalu kita keluar sekolah. Melalui lorong lorong sekolah yang gelap. Jalan becek. Udara yang terasa masih sangat dingin. Dan ah... Kita tetap bergandeng tangan.
Kulajukan kendaraan roda dua ini agak kencang dari biasanya. Aku tak ingin kau lebih basah lagi. Kau memelukku erat. "Hati hati sayang" katamu saat aku sempat kehilangan kendali. "Iya" kataku. Lalu kita menerobos guyuran hujan yang semakin deras. Saat itu hujan sangatlah deras. Jalanan mulai tak terlihat. Tak kusangka seekor kucing berlari didepanku. Reflek aku menghindarinya. Karena jalanan yang licin dan motorku yang melaju cepat kita terpelanting dan jatuh. Dan aku tak sadarkan diri. Sempat aku melihatmu tersungkur di jalan dengan darah yang bersimbah.
Lalu aku tersadar. Aku merasakan kesakitan yang sangat pada sekujur tubuhku. Setidaknya aku bisa membuka mataku. Dimana ini?. Pikirku. Seseorang dokter mendatangiku. "Sudah sadar" katanya. Lalu aku dibantunya duduk. "Ah" aku kesakitan. Aku diberi minum. Lalu aku bertanya. "Dok, gimana pacarsaya dok!?". "Maaf sekali mas.. Kami sudah berusaha semampunya. Maaf nyawanya tak tertolong. Lukanya sangat parah dan dia kehabisan banyak darah saat perjalanan ke rumah sakit". Seketika badanku melemas. Mataku mulai mengembang. Air mataku sudah meleleh. Aku menangis. Tubuhku terguncang hebat. Tak kusangka ini hari terakhirku bersamamu.
Now I think I understand
How this world can overcome a man.
Like a friend we saw it through
In the end I gave my life for you
Gave you all I had to give
Found a place for me to rest my head.
While I may be hard to find
Heard there's peace just on the other side
Aku begitu mencintaimu sayang. Aku hidup untukmu. Aku mati tanpamu. Ah! Sejujurnya aku benci pada diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa hati hati saat itu?. Apa ini salahku?. Ah persetan dengan itu!. Aku yakin. Hujanlah penyebabnya! Huh! Aku benci hujan!.
Not that I could
Or that I would
Let it burn
Under my skin
Let it burn
Sudah satu minggu kau meninggalkanku. Ah aku sangat rindu kamu sayang. Andai hujan itu sudah benar benar berhenti, aku pasti bisa memelukmu saat ini. Ah untuk apa aku berfikiran seperti itu. Tapi sungguh aku sangat sangat sedih. Aku belum bisa melupakan kenangan itu. Suatu hujan di bulan Oktober.
Left this life to set me free
Took a piece of you inside of me
Now this hurt can finally fade
Promise me you'll never be afraid
Saat itu aku berjalan sendirian di suatu taman dimana aku dan kamu sering menghabiskan waktu bersama. Aku duduk di kursi di bawah pohon beringin di belakang kolam. Kupasang headsetku. Lalu.. Potongan lagu Fiction dari Avenged Sevenfold telah mengubahku...
I hope it's worth it, here on the highway, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you
So tell everybody, the ones who walk beside me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you tonight
I hope it's worth it, what's left behind me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you
So tell everybody, the ones who walk beside me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you tonight...
"Huuuuuhhhh" helaku. Aku kembali membuka mataku. Entah mungkin hanya butuh waktu sedetik untuk mengingat itu semua. Dan kenangan itu sudah kusimpan dengan aman di alat yang kusebut waktu. Dan aku kini bersama Virra. Wanita yang kutemui di taman tempat biasa kita mengadu cinta kita. Hehehe maafkan aku Astrid. Hujan ini masih deras sayang...
Lalu aku keluar kamar. Hujan itu sudah selesai. Bau khas setelah hujan mulai tercium. "Hemmm..." kutarik nafas yang panjang. Lalu aku mengeluarkannya. Bersamaan dengan kenangan. Pada saat itu. Di hari Sabtu sore, saat kita terjebak derasnya hujan di depan kelas...
08102011-- Kau menggenggam erat tanganku. Kau tampak menggigil. Genggamanmu semakin erat. Kulingkarkan tanganku di bahumu. Hanya sekedar memelukmu agar kau tidak kedinginan lagi. Kau menatapku. Aku hanya tersenyum. Mungkin sudah berjam jam aku dan kau duduk disini. Anak anak yang hujan hujan sambil bermain bola itu sudah pulang. Entah mengapa? hujan ini belum berhenti. Tak sepatah katapun keluar dari mulutmu ataupun mulutuku. Hanya saja aku sudah bisa merasakan kebahagiaan itu melalui bahasa tubuhmu.
Kugeser sedikit tubuhmu. Kulihat jam tangan. Tak terasa sudah tiga jam kita duduk dan berpelukan disini. Sekolah sudah sangat sepi. Kita masih saja disini. Menikmati udara udara basah hujan. Ah serasa sekolah ini milik kita berdua saja. Batinku sambil tersenyum. Dan mempererat pelukanku.
Petang sudah datang. Dan hujanpun sudah berhenti. "Pulang yuk" katamu. "Iya kita pulang" jawabku sambil berdiri. Aku juga membantumu berdiri. Lalu kita keluar sekolah. Melalui lorong lorong sekolah yang gelap. Jalan becek. Udara yang terasa masih sangat dingin. Dan ah... Kita tetap bergandeng tangan.
Kulajukan kendaraan roda dua ini agak kencang dari biasanya. Aku tak ingin kau lebih basah lagi. Kau memelukku erat. "Hati hati sayang" katamu saat aku sempat kehilangan kendali. "Iya" kataku. Lalu kita menerobos guyuran hujan yang semakin deras. Saat itu hujan sangatlah deras. Jalanan mulai tak terlihat. Tak kusangka seekor kucing berlari didepanku. Reflek aku menghindarinya. Karena jalanan yang licin dan motorku yang melaju cepat kita terpelanting dan jatuh. Dan aku tak sadarkan diri. Sempat aku melihatmu tersungkur di jalan dengan darah yang bersimbah.
Lalu aku tersadar. Aku merasakan kesakitan yang sangat pada sekujur tubuhku. Setidaknya aku bisa membuka mataku. Dimana ini?. Pikirku. Seseorang dokter mendatangiku. "Sudah sadar" katanya. Lalu aku dibantunya duduk. "Ah" aku kesakitan. Aku diberi minum. Lalu aku bertanya. "Dok, gimana pacarsaya dok!?". "Maaf sekali mas.. Kami sudah berusaha semampunya. Maaf nyawanya tak tertolong. Lukanya sangat parah dan dia kehabisan banyak darah saat perjalanan ke rumah sakit". Seketika badanku melemas. Mataku mulai mengembang. Air mataku sudah meleleh. Aku menangis. Tubuhku terguncang hebat. Tak kusangka ini hari terakhirku bersamamu.
Now I think I understand
How this world can overcome a man.
Like a friend we saw it through
In the end I gave my life for you
Gave you all I had to give
Found a place for me to rest my head.
While I may be hard to find
Heard there's peace just on the other side
Aku begitu mencintaimu sayang. Aku hidup untukmu. Aku mati tanpamu. Ah! Sejujurnya aku benci pada diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa hati hati saat itu?. Apa ini salahku?. Ah persetan dengan itu!. Aku yakin. Hujanlah penyebabnya! Huh! Aku benci hujan!.
Not that I could
Or that I would
Let it burn
Under my skin
Let it burn
Sudah satu minggu kau meninggalkanku. Ah aku sangat rindu kamu sayang. Andai hujan itu sudah benar benar berhenti, aku pasti bisa memelukmu saat ini. Ah untuk apa aku berfikiran seperti itu. Tapi sungguh aku sangat sangat sedih. Aku belum bisa melupakan kenangan itu. Suatu hujan di bulan Oktober.
Left this life to set me free
Took a piece of you inside of me
Now this hurt can finally fade
Promise me you'll never be afraid
Saat itu aku berjalan sendirian di suatu taman dimana aku dan kamu sering menghabiskan waktu bersama. Aku duduk di kursi di bawah pohon beringin di belakang kolam. Kupasang headsetku. Lalu.. Potongan lagu Fiction dari Avenged Sevenfold telah mengubahku...
I know you'll find your own way when I'm not with you
So tell everybody, the ones who walk beside me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you tonight
I hope it's worth it, what's left behind me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you
So tell everybody, the ones who walk beside me, yeah
I know you'll find your own way when I'm not with you tonight...
"Huuuuuhhhh" helaku. Aku kembali membuka mataku. Entah mungkin hanya butuh waktu sedetik untuk mengingat itu semua. Dan kenangan itu sudah kusimpan dengan aman di alat yang kusebut waktu. Dan aku kini bersama Virra. Wanita yang kutemui di taman tempat biasa kita mengadu cinta kita. Hehehe maafkan aku Astrid. Hujan ini masih deras sayang...
Tersenyumlah setelah kau menangis. Karena pelangi ada karena hujan yang sudah berlalu.


Komentar
Posting Komentar