Teruntuk; Mantan Pacar
Pelajaran
sejarah berlangsung seperti biasanya. Tak banyak yang antusias. Sedikit
membosankan memang membahas hal di masa lalu. Sesekali lirikan Bu Yayuk
mengawasi. Atau berjalan mendekati beberapa dari kami yang tidak konsentrasi.
Aku sendiri sibuk membaca tentang peradaban awal manusia di Indonesia. Sesekali
melirik ke belakang. Melihatmu.
“Tet..
Teet.. Teeet…” bel istirahat memecahkan konsentrasi.
“Pelajaran
selesai, ada yang ditanyakan? Jika tidak kita lanjutkan minggu depan.
Terimakasih” Bu Yayuk meninggalkan kelas.
Bersamaan
dengan kamu yang menggelangsurkan setengah badanmu di meja. Bersembunyi dibalik
jaketmu. Kau lelah? Bersandarlah dibahuku, kapan saja aku mau, Bunga.
***
“Semenjak kita putus,
arti kata dekat hanya bisa terucap. Tanpa pernah bisa terungkap. Menyesali tak
akan berguna. Kuharap kita saling mengobati, lagi”
Memang
seperti ini keadaanku. Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Membuatmu
tersenyum, walau tak pernah berbalas. Bersamaan dengan hatiku yang meraung
raung memanggil namamu. Tapi aku memilih diam. Aku tak mau terluka lagi,
apalagi melukaimu. Aku tak mau.
Enam bulan sejak
berpisah denganmu, kita tak pernah berbicara lagi, jangankan berbicara, menyapa
pun tak pernah. Memang tak jelas alasanmu mengakhiri hubungan kita. Mungkin kau
sudah tidak nyaman lagi. Atau ada orang ketiga? Ah sudahlah. Tidak penting.
Tapi Bunga,
apa kau masih ingat awal perjumpaan kita? Kata pertama kita? Atau saat kita
bersama? Saat kau menanyakan jadwal pelajaran esok pagi karena jadwalmu hilang?
Saat kau jatuh dan kakimu terluka, siapa yang menolongmu membelikan obat merah?
Lalu saat kau menyoretkan tinta di lenganku di pelajaran kimia? Apa kau lupa?
Tapi aku mengingatnya. Dengan sempurna.
Dulu. Awal
cerita kita. Kau tersenyum saja, hatiku langsung luluh. Tapi bagaimana
denganmu? Aku butuh ribuan kata kata manis dan tindakan tulus agar bisa
mambuatmu luluh. Aku selalu kalah telak denganmu. Bukan masalah, aku suka ini.
Rasa tenang dan nyaman yang kudapat darimu. Merambat keseluruh tubuhku.
Memelukku hangat.
Banyak hal yang hilang setelah kau pergi. Kini, tak ada lagi kata kata pengantar tidur, tak ada panggilan sayang rahasia kita, tak ada senyum dan sapa di pintu kelas, tak ada lagi ucapan selamat pagi, atau panggilan sayang rahasia kita. Tapi terkadang aku rindu, apa kau juga?
Cerita kita
memang tak panjang. Tapi disini, banyak hal yang tertinggal. Kenangan, harapan,
dan usaha kita. Terlalu menyakitkan untuk ditinggalkan.
Sebenarnya
setelah kita putus, kau sudah punya pacar baru lagi. Sakitnya, dia adalah orang
yang pernah kau tolak sebelumnya, dan kau memilih aku. Tapi kenapa sekarang kau
memilih dia lagi? Aku terlalu emosi. Aku lupa dengan keadaan. Tentang kita yang
sudah bukan siapa siapa lagi. Tapi tak lama. Kalian sudah putus. Ah senangnya.
Sulit memang
untuk berpaling darimu. Aku sudah mencobanya. Pada Ara, adik kelas. Kuakui dia
lebih cantik darimu, lebih manis darimu dan sepertinya dia juga pintar. Dia
sungguh mempunyai semua kriteria yang aku mau. Tapi, kenapa bayanganmu masih
hinggap dikepalaku? Tak kusadari, kau terlalu hebat untuk dilupakaan.
Aku menyerah
melupakaanmu
Aku harus
kembali padamu, memungut hatiku yang masih tertinggal atau menetap disitu
selamanya. Dengan segala resiko yang ada. Tapi masalahnya, hatiku belum
sepenuhnya sembuh. Lelaki berhak untuk sakit hati, kan?
Sudahlah,
aku tak mau membahas tentang masa lalu lagi. Terlalu sakit untuk diingat, tapi
lebih sakit lagi kalau dilupakan.
Kita memang
masih saling bertemu. Tiap pagi, tiap hari. Dikelas. Kau biasa duduk
dibelakangku. Terkadang suaramu menyelinap disela sela telingaku. Merdu. Aku
suka saat tingkah konyolku menghiburmu hingga membuatmu tertawa. Tapi terkadang
kau tak menanggapi.
Bunga, apa
kau tidak merasa risih dengan cemoohan mereka? Teman teman. Bahkan guru yang
sempat mengetahui hubungan kita. Kita memang menyakitkan. Diam dan penuh rasa
kebencian. Mata kita seperti dua kutub magnet yang sama saat didekatkan. Tak
pernah bertemu. Saat kau memandangku, aku memalingkan wajah. Begitu juga
denganmu. Senyuman seperti terpasung. Sapaanmu sudah haram lagi untuk
diucapkan. Sambil berharap kau mengerti. Aku ingin semua itu terjadi lagi. Mata
kita bertemu meski malu malu. Saling menyapa dan berbicara, lalu tertawa
bersama. Tersenyum untuk saling menguatkan. Lagi. Aku ingin.
Aku sudah bosan dalam
keterasingan.
***
“Kamu kenapa bung?” kataku
khawatir. Kau hanya tersenyum. Aku cukup lega. “Tetep semangat ya” aku
tersenyum. Kau malah malu. Ah indahnya.
“Kau adalah
orang yang sangat mudah untuk dirindukan, dulu, kini, esok dan selama lamanya”
Dari; Mantanmu.


Komentar
Posting Komentar